Pakar gizi dan pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Made Astawan menjelaskan bahwa buih tersebut berasal dari pelepasan gas CO2 atau karbondioksida sehingga disebut juga sebagai reaksi karbonasi. Minuman ringan bersoda menggunakan gas CO2 untuk menciptakan sensasi segar alias semriwing.
Tekanan tinggi dalam proses pembuatan menyebabkan gas CO2 terjebak dalam cairan. Saat kemasan dibuka, tekanan berkurang dan CO2 akan terlepas, lalu membentuk buih dan desis. Jika kemasan dibiarkan terus terbuka, lama kelamaan CO2 akan habis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Dokter Ginjal: Bukan Soda yang Merusak Ginjal, Tapi Pemanisnya
Reaksi karbonasi adalah sebagai berikut: H2O + CO2 => H2CO3 (asam karbonat). Terbentuknya asam karbonat membuat minuman bersoda punya sifat asam, dengan pH berkisar antara 3,2 - 3,7. Rasa asam tersebut sekaligus juga menjadi ciri khas minuman bersoda.
Selain dipakai dalam pembuatan soft drink, reaksi karbonasi juga dipakai untuk membuat larutan effervescent. Ada beberapa macam teknik untuk membuatnya, salah satunya dengan mereaksikan asam sitrat dengan natrium bikarbonat (NaHCO3).
Baca juga: Pastikan Anda Kurangi Konsumsi Gula karena Alasan-alasan Ini
(up/vit)











































