Tak sedikit film, acara televisi atau buku yang isinya menjabarkan informasi seks, yang kemudian bisa dengan mudah diakses oleh anak atau remaja. Kondisi ini tentu meresahkan para orang tua.
Namun meskipun demikian, psikolog anak dan keluarga RS Pondok Indah, Roslina Verauli, MPsi, menjelaskan bahwa terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa media seperti ini lantas pasti akan memberi pengaruh buruk pada anak-anak dan remaja.
"Terlalu dini kalau mengambil kesimpulan seperti itu, media seperti ini hanya mampu memberikan informasi dan ide. Sudah sebatas itu saja," ungkap psikolog yang akrab disapa Vera ini kepada detikHealth, Rabu (4/2/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini juga tidak bisa disamaratakan efeknya akan sama pada setiap orang. Bagi sebagian besar, media seperti ini hanya memberikan informasi semata dan belum tentu langsung dipraktikkan saat itu juga.
"Misalnya saya baca buku kamasutra, lalu apakah otomatis saya lakukan saat ini? Tidak kan, cukup tahu. Untuk melakukan, kita harus berada dalam suatu situasi tertentu yang memungkinkan kondisi tersebut," imbuhnya.
Vera menegaskan, proses pemikiran sampai menjadi tindakan merupakan suatu proses yang kompleks dan membutuhkan waktu. Lantas bagaimana dengan orang tua yang kerap parno hal seperti ini bisa 'membahayakan' anak dan remajanya?
"Orang dewasa yang sudah melakukan hubungan seks itu sering menyamakan konsep pacaran remaja dengan aktivitas seks itu, padahal sebenarnya tidak. Anak-anak itu perlu diberitahu pacaran itu apa. Saling mencari informasi dulu tentang apa itu pacaran, cinta dan aktivitas seksual, itu benar-benar berbeda," tegas Vera.
Namun meskipun demikian, sebaiknya orang tua juga tetap membatasi dan memilah dengan cermat bentuk media seperti apa yang tepat diberikan kepada anak, terutama remaja. Ini agar informasi yang didapatnya pun sebatas informasi yang bersifat positif.
Baca juga: Saran Psikolog Agar Anak Anda Tumbuh Jadi Sosok 'Tahan Banting'
(ajg/up)











































