Hanya saja, perkembangan zaman juga memunculkan suatu masalah baru di bidang kesehatan. Pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Hasanuddin Makassar, Prof Abdul Razak Thaha, MSc menilai adanya anomali di masyarakat terkait konsep sehat dan tidak sehatnya tubuh seseorang.
Salah satunya adalah anomali angka anak obesitas dan anak stunting di beberapa daerah. Dulu, jika angka obesitas tinggi, prevalensi anak lahir stunting, kurus dan pendek otomatis rendah. Hal ini disebabkan oleh tingkat kesejahteraan masyarakat yang rata-rata menengah ke atas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anomali ini menghasilkan istilah yang disebut sebagai the new normal. Dalam artian, anak obesitas atau anak stunting dalam daerah yang sama dianggap wajar dan dikategorikan sebagai hal yang lumrah oleh masyarakat.
Dikatakan Prof Aca, lahirnya anomali ini dapat menimbulkan anomali-anomali lainnya. Salah satunya adalah prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak menular di beberapa negara berkembang.
Sepatutnya jika angka penyakit tidak menular meningkat, angka pertumbuhan ekonomi negara tersebut meningkat. Lalu penyakit menular seperti infeksi harusnya menurun karena adanya peningkatan di sektor kesehatan sebagai imbas meningkatnya kesejahteraan penduduk suatu negara.
Yang terjadi di lapangan malah sebaliknya. Dikatakan Prof Aca bahwa Global Nutrition Report tahun 2014 melaporkan adanya peningkatan penyakit tidak menular sekaligus penyakit menular di negara-negara dengan kategori miskin dan berkembang.
"Survei Global Nutrition Report mengatakan bahwa 46 persen negara di dunia sedang mengalami hal ini. Indonesia termasuk salah satunya. Jika tak ditangani, akan terjadi penumpukan pasien penyakit tidak menular dan penyakit menular sekaligus," pungkasnya.
(mrs/vit)











































