Jumat, 06 Feb 2015 17:45 WIB

Catat! Ini Saran Dokter Kulit RSHS Bagi Penggemar Baju Awul-awul

- detikHealth
dr Dendi, SpKK (Foto: Avitia / detikHealth)
Bandung -

Pakaian impor bekas banyak digemari masyarakat karena selain barangnya bermerek terkenal, pakaian bekas juga kadang menjadi buruan penganut vintage style. Namun belakangan pemerintah melarang masyarakat untuk membeli barang impor karena diduga berbakteri berbahaya.

Nah, dokter kulit dari RS Hasan Sadikin (RSHS), dr Dendi Sandiono punya tips agar tidak terjangkit penyakit dari pakaian bekas. Di depan para wartawan, dr Dendi mengingatkan agar masyarakat waspada jika membeli pakaian bekas. Salah-salah, malah tubuh kita terserang penyakit dari pakaian bekas tersebut.

"Yang paling utama pakaian bekas harus dicuci dulu (setelah dibeli) dan direndam dengan air 100 derajat celcius selama lima sampai 10 menit," ujar Dendi kepada wartawan dalam diskusi di RSHS, Kota Bandung, Jalan Pasteur, Jumat (6/2/2015).

Baca juga: Baju Bekas Impor Juga Populer di Bandung, Dokter Kulit RSHS Angkat Bicara

Mencucinya pun tidak boleh sembarangan. Pakaian yang telah dibeli, sebaiknya dicuci tersendiri karena khawatir jika dicuci bersamaan, pakaian sehari-hari kita akan tercemar.

"Dicucinya juga harus terpisah dari baju yang lain, jangan disatukan," terang Dendi.

Dendi juga menyarankan agar saat mencuci baju impor, menggunakan deterjen yang mengandung antiseptic. Namun jika tidak, deterjen biasa juga tidak masalah.

"Setelah selesai dicuci, pakaian harus disetrika dengan suhu yang cukup panas. Baru dipakai," ucapnya.

Terkait perdebatan boleh tidaknya membeli pakaian bekas, Dendi enggan berkomentar banyak. Namun ia menyarankan jika memang masyarakat tetap ingin membeli pakaian bekas impor, tips di atas wajib dilakukan.

"Saya sendiri tidak bisa melarang atau memperbolehkan. Tapi kalau memang mau membeli, saya sarankan seperti itu," tandasnya.

Baca juga: Soal Baju Bekas Bisa Tularkan HIV, Menteri Gobel Sampaikan Klarifikasi

(avi/up)