Biasanya jamu mudah ditemui di toko-toko herba dan penggunaannya sangat jarang ditemukan di pusat pengobatan modern seperti rumah sakit. Tapi hal tersebut sepertinya tak berlaku di RSUP Soeradji Tirtonegoro, Klaten, Jawa Tengah.
Di RS tipe B milik pemerintah ini ada satu klinik yang fokus memberikan pengobatan alternatif. Pelayanan seperti jamu, akupunktur, pijat aroma terapi, dan bekam adalah contoh beberapa pelayanan yang diberikan di poliklinik bernama Klinik Rosela.
Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Soeradji, dr Djoko Windoyo, SpRM, mengatakan klinik tersebut dijalankan oleh tenaga medis yang kompeten. Klinik berfungsi sebagai pelengkap pemberi pelayanan kesehatan sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat yang memang berusaha mengembangkan warisan tradisional seperti jamu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Klinik Rosela memiliki beberapa tenaga medis. Di antaranya satu dokter spesialis penyakit dalam, satu dokter bersertifikat pelayanan jamu, satu D3 Batra (pengobat tradisional), dua asisten apoteker, satu apoteker, dan satu perawat.
dr Djoko mengatakan makin banyak masyarakat yang mengunjungi Klinik Rosela dibandingkan saat pertama kali berdiri empat tahun yang lalu. Meski memang diakui kebanyakan masyarakat datang hanya untuk membeli jamunya saja.
"Ada karena sudah pernah konsultasi selanjutnya ia ingin dapat jamunya saja. Kita sempat berdebat panjang tapi akhirnya ya kita bolehkan. Jamunya saja kan lebih tidak berbahaya daripada obat kimia," imbuh dr Djoko.
Klinik Rosela adalah salah satu klinik jaringan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) di Tawangmangu, Jawa Tengah. Para peneliti di tempat tersebut bertugas mencari bukti ilmiah dari bermacam-macam resep jamu yang ada.
(up/up)











































