Rabu, 11 Feb 2015 20:06 WIB

Banyak Laporan Kasus Bayi Atresia Bilier, Ini Komentar Pakar Hepatologi Anak

- detikHealth
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Beberapa waktu terakhir, kasus bayi-bayi yang mengalami gangguan fungsi hati berupa atresia bilier makin bertambah. Padahal dulunya gangguan fungsi hati atresia bilier bisa dibilang jarang muncul dan diketahui khalayak.

Menanggapi hal ini, Dr dr Hanifah Oeswari SpA(K), konsultan hepatologi anak RSCM mengatakan dulu masalahnya adalah diketahui penanganan atresia bilier tetapi tidak bisa sampai 'ujung'. Sebenarnya, untuk menangani atresia bilier bisa dilakukan operasi kasai. Tapi, jika kondisi pasien sudah buruk maka pilihan berikut adalah transplantasi hati.

"Nah dulu kita hanya bisa kasai. Kita nggak bisa transplantasi hati. Tapi, dengan adanya kemajuan di RSCM, kita bisa transplantasi hati anak makanya harapan untuk menyembuhkan dengan lebih baik ada," kata dr Hanif ditemui di Kantor Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2015).

"Maka dari itu sekarang muncul kasus yang tadinya tidak sampai ke RSCM dan menganggap penyakit ini nggak bisa diobati, karena sekarang mulai ada haraapn baru kalau penyakit itu bisa ditangani sehingga banyak pasien yang datang ke kami," lanjut dr Hanif.

Ia menambahkan, data di RSCM menunjukkan kasus-kasus pasien anak yang datang dengan atresia bilier cukup banyak. Ada pasien yang datang sendiri, ada pula yang merupakan rujukan dari RS lain. dr Hanif menutukan pemicu atresia bilier sampai saat ini belum diketahui pasti.

"Terkait penyebabnya ada banyak teori, teori virus teori imunitas tapi sampai saat ini belum ada penyebab pasti meski sudah diteliti. Pada pasien atresia bilier, mereka memang butuh 30-50% kalori lebih tinggi dari anak umumnya. Padahal pasien ini ada keterbatasan, nafsu makan berkurang, perut tidak nyaman," tutur dr Hanif.

Maka dari itu, untuk bisa cepat menaikkan berat badan pasien akan dipasang alat untuk menyalurkan nutrisinya. Untuk menjalani transplantasi hati, minimal berat badan pasien yakni 10 kg. Bisa saja berat badan pasien di bawah 10 kg tetapi risiko kegagalannya lebih besar.

Menurut dr Hanif, atresia bilier tidak bisa didiagnosis sejak anak di dalam kandungan. Kuncinya, dikatakan dr Hanif saat bayi lahir kuning sampai dua minggu maka harus dicurigai ada kelainan hati. Apalagi jika diperhatikan fesesnya putih seperti dempul. Atresia bilier pun umumnya dialami 1 dari 10.000-15.000 bayi.

Feses seperti dempul disebabkan karena adanya sumbatan pada saluran empedu yang berfungsi bagi hati untuk menyalurkan empedu ke usus 12 jari. Karena empedu yang mengandung bilirubin tidak bisa disalurkan ke usus 12 jari sehingga tidak ada yang 'mewarnai' usus, akibatnya feses pun berwarna putih seperti dempul.

(rdn/vit)