Kate didiagnosis mengidap kanker usus besar di bulan Oktober 2012. Akan tetapi ia dan sang suami, Billy Boyle begitu terpukul ketika mengetahui bila Kate telah memasuki stadium lanjut, dengan peluang keberlangsungan hidup hanya sebesar lima persen.
Namun nasib berkata lain. Setelah berjuang mati-matian, wanita yang pernah bekerja sebagai staf ahli mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair dan Gordon Brown ini pun meninggal dunia di usia 36 tahun, tepat pada hari Natal tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Billy tentu tak kuasa mendapati kenyataan tersebut. Akan tetapi ia tak mau terpuruk begitu saja. "Saat Kate dirawat, kami melihat begitu banyak pasien kanker di rumah sakit. Dan kami sepakat, mereka semua ada di sana karena penyakit itu sudah terlambat terdeteksi," tutur Billy seperti dikutip dari Sky News, Kamis (12/2/2015).
Dari situlah Billy tergerak untuk menciptakan sebuah teknologi yang dapat mendiagnosis kanker lebih dini. Ia pun mengembangkan sebuah breathalyzer yang disebut dengan LuCID (lung cancer indicator detection atau alat pendeteksi indikasi kanker paru).
Cara penggunaannya mudah saja, pasien tinggal meniupkan napas ke alat ini. Nantinya bakal diketahui apakah pasien memang berisiko terkena kanker atau tidak.
Mengapa harus dengan cara seperti ini? Billy menerangkan bahwa penyakit kanker tertentu seperti kanker paru dan kanker usus menghasilkan bahan-bahan kimia yang memiliki susunan unik, meskipun bentuknya sangat kecil. Dan bahan kimia ini terkandung dalam napas seseorang.
Ia berharap dengan alat ciptaannya itu, ia bisa menyelamatkan 10.000 jiwa dari kanker yang merenggut ibu dari anak kembarnya, Oscar dan Isaac tersebut.
Tak sia-sia, dua bulan kemudian, alat pendeteksi kanker bikinan Billy akan diuji coba di dua rumah sakit yang berada di bawah pengelolaan National Health Service (NHS) Inggris. Untuk ujicoba ini sendiri, NHS mengaku telah menggelontorkan dana mencapai 1 juta poundsterling (sekitar Rp 19 miliar).
"Bila ujicobanya sukses, maka alat ini bisa didistibusikan ke rumah sakit lain, klinik atau bahkan apotek agar orang-orang bisa lebih mudah mengenali risiko kankernya," timpal Dr Jonathan Bennet, spesialis paru-paru dan konsultan dari Glenfield Hospital, Leicester menanggapi temuan ini.
Baca juga: Periksa Testis Sendiri, Deteksi Dini Kanker Testis
(lil/vit)











































