Studi yang disampaikan pada pertemuan American Academy of Neurologi ke 67 di Washington, D.C, dinyatakan bahwa biopsi kulit dapat mendeteksi kadar protein abnormal yang sering dijumpai di kedua penyakit ini.
"Sampai saat ini, konfirmasi secara patologis tidak mungkin dilakukan selain dengan melakukan biopsi otak, sehingga penyakit ini baru akan dikenali ketika telah sampai ke tahap berikutnya," ujar salah satu penulis studi tersebut, Ildefonso Rodriguez-Levya, MD, dikutip dari Science Daily, Kamis (26/2/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam studi ini, para peneliti mengambil biopsi kulit dari 20 orang dengan Alzheimer, 16 orang dengan penyakit Parkinson dan 17 orang dengan demensia yang disebabkan oleh kondisi tertentu. Selain itu, diambil pula biopsi kulit dari 12 orang sehat di rentang umur yang sama. Mereka mengambil sampel kulit untuk melihat tipe protein secara lebih spesifik.
Baca juga: Alzheimer Bisa Diusir dengan Makanan Favorit Popeye Ini
Hasil pemeriksaan menunjukkan, dibandingkan dengan orang yang sehat serta orang-orang yang terkena demenisa karena kondisi tertentu, orang-orang yang memiliki penyakit alzheimer dan parkinson ditemukan memuliki tujuh kali lebih banyak protein tau. Bahkan, orang-orang dengan Parkinson mempunyai delapan kali lebih banyak jumlah protein alpha-synuclein daripada kelompok kontrol yang sehat.
Telah diketahui bahwa penyakit Alzheimer menjadi peringkat ke-enam penyebab utama kematian warga Amerika serikat, dan lebih dari 5,4 juta orang saat ini didiagnosis dengan penyakit tersebut. Sementara lebih dari 1 juta orang Amerika mengidap Parkinson, dengan setidaknya 60 ribu kasus baru dilaporkan setiap tahunnya.
Namun, Rodriguez-Leyva juga mengatakan bahwa dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait temuan menarik ini. Penelitian yang didukung oleh National Council of Science and Technology of Mexico ini juga akan mendapat sampel biopsi kulit lebih mudah dibanding sebelumnya. "Prosedur ini tidak hanya digunakan untuk mendiagnosis Alzheimer dan Parkinson saja, tetapi juga penyakit neurodegeneratif lainnya," ujarnya.
Baca juga: Parkinson, Penyakit Unik dan Misterius
(rdn/up)











































