Studi: Resisten Insulin Berhubungan dengan Perubahan Perilaku

Studi: Resisten Insulin Berhubungan dengan Perubahan Perilaku

- detikHealth
Rabu, 04 Mar 2015 11:44 WIB
Studi: Resisten Insulin Berhubungan dengan Perubahan Perilaku
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Massachusetts, AS - Orang-orang dengan diabetes lebih rentan mengalami kecemasan dan depresi dibanding orang dengan penyakit kronis lainnya yang memiliki tingkat manajemen pengelolaan yang sama. Dalam keseharian, kerentanan para pasien diabetes mengalami kecemasan dan depresi pun sering dipertanyakan.
 
Terkait dengan hal ini, studi yang dilakukan Joslin Diabetes Center menjelaskan penyebab mengapa para diabetesi rentan mengalami kecemasan dan depresi. Dikatakan Ronnald C. Kahn, MD, ketua akademik di Joslin Diabetes Center, studi yang mereka lakukan adalah studi pertama yang dapat langsung menyatakan bahwa resistensi insulin otak dapat mengubah perilaku seseorang.
 
Para peneliti memodifikasi genetik tikus, membuat otak mereka resisten terhadap insulin. Hasilnya, terdapat kecemasan dan depresi yang dialami para tikus. Kemudian, hal itu merujuk pada mekanisme neurotransmitter dopamin yang rendah di area otak yang berhubungan dengan kondisi tersebut.

"Kami juga memberikan tekanan stres pada tikus percobaan untuk menganalisis obat yang dapat menangani kecemasan dan depresi," ucap dr Kahn, dikutip dari Science Daily, Rabu (4/3/2015).

Baca juga: Studi: Kurang TGidur Bisa Meningkatkan Risiko Diabetes

Ketika meneliti otak tikus tersebut, para ilmuwan menemukan adanya perubahan metabolisme mitokondria. Pada perubahan itu, mitokondria meningkatkan produksi dua enzim yang bisa menurunkan dopamin, transmiter utama pada perilaku otak. Dikatakan dr Kahn, tikus-tikus tersebut menghasilkan jumlah dopamin yang normal. Namun, karena perubahan dalam mitokondria mereka, maka terjadi peningkatan metabolisme dopamin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami berpikir bahwa perlu melakukan kontribusi pada perilaku tersebut, dan bahkan ketika kami memberikan antidepresan pada tikus yang dapat memperlambat degradasi dopamin, kami dapat memperbaiki beberapa perubahan perilaku yang terjadi," kata dr Kahn.

Pada penelitian sebelumnya, tikus dan manusia sama-sama mempunyai hubungan antara resistensi insulin dan kondisi neurodegeneratif, terutama pada penyakit alzheimer. Studi klinis telah menunjukkan bahwa pasien alzheimer menunjukkan penurunan kadar pada beberapa protein insulin. Hal itu menunjukkan bahwa resistensi insulin berperan pada penyakit alzheimer.

Baca juga: Reseptor Insulin terganggu, Anak Obesitas Lebih Berisiko Kena Diabetes

Selain itu, pada penelitian sebelumnya menunjukkan tikus yang resisten insulin dapat mengubah protein yang dikenal sebagai 'tau', itu merupakan gejala awal kelainan alzheimer. Studi awal telah menunjukkan bahwa mengobati penyakit alzheimer dengan insulin hirup akan langsung mengirim insulin ke otak dan tidak membuat perubahan pada fungsi kognitif otak.

"Ini jelas terlalu dini untuk membicarakannya, karena kami sedang dalam tahap awal penelitian, tapi kami memiliki hipotesis insulin intranasal mempunyai efek anti depresi pada penderita diabetes," tutur dr Kahn.

(rdn/vit)

Berita Terkait