Masuk Jurnal Internasional, Penelitian RSPAD Buka Peluang 'Kalahkan' DBD

Masuk Jurnal Internasional, Penelitian RSPAD Buka Peluang 'Kalahkan' DBD

- detikHealth
Jumat, 06 Mar 2015 07:35 WIB
Masuk Jurnal Internasional, Penelitian RSPAD Buka Peluang Kalahkan DBD
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Perang melawan Demam Berdarah Dengue (DBD) gencar dilakukan, namun hingga kini belum ada satupun terapi yang spesifik untuk peyakit ini. Harapan baru muncul dari riset yang dilakukan tim dokter RSPAD Gatot Subroto.

Tim yang terdiri dari 4 dokter peneliti tersebut memanfaatkan efek antiradang dan imunomodulasi dari bahan alam yang banyak dikenal masyarakat, yakni ekstrak propolis atau liur lebah. Prinsipnya adalah menekan interaksi yang rumit dari respons sistem imun.

Interaksi yang rumit tersebut melibatkan sejumlah komponen sistem imun, di antaranya Tumor Necrosis Factor-alfa (TNF-alfa). Dalam penelitian lain sebelumnya, interaksi sejumlah respons sistem imun tersebut diduga berkaitan dengan tingkat keparahan DBD.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil pengujian pada 63 pasien DBD, pemberian ekstrak propolis sebagai terapi supportif memberikan efek yang memuaskan. Kadar TNF-alfa pada pasien DBD teramati turun di hari ke-7 perawatan di rumah sakit, sehingga tingkat keparahan DBD menurun.

"Masa rawat inap menjadi lebih singkat dibanding mereka yang berada di kelompok plasebo," tulis para peneliti, seperti disampaikan dalam jumpa pers di Auditorium RSPAD Gatot Subroto, Jl Dr Abdul Rachman Saleh, Jakarta Pusat, seperti ditulis Jumat (6/3/2015).

Baca juga: Penelitian Belum Selesai, Vaksin DBD di Indonesia Masih Tahap Evaluasi

Beberapa kandungan yang diyakini berkhasiat antara lain Caffeic Phenethyl Ester (CAPE) dan flavonoid. Teramati sejak hari ke-3 masa rawat inap, kandungan senyawa-senyawa tersebut membuat masa pemulihan pada pasien DBD cenderung lebih cepat.

Penelitian ini telah dipublikasikan di sejumlah jurnal internasional, di antaranya Dove Medical Press dan PubMed Central.

Tentang DBD, diperkirakan 2,5 miliar penduduk dunia terancam oleh penyakit ini. Organisasi kesehatan dunia WHO memperkirakan, penyakit ini menewaskan sedikitnya 50 juta orang/tahun di sekitar 100 negara. Tidak adanya pemahaman yang lengkap tentang mekanisme perkembangan penyakit ini menjadi salah satu alasan sulitnya menemukan terapi yang spesifik untuk menyembuhkannya.

Baca juga: Benarkah Kasus DBD Sleman Turun karena Nyamuk Ber-Wolbachia?

(up/lil)

Berita Terkait