"Saya kenal putaw dari SMA. Saya dari SMA 1," kata Imran (35), seorang pecandu yang menjalani program terapi rumatan methadon (PTRM) di Puskesmas Kassi-kassi, Rabu (11/3/2015).
"Lho ternyata kita satu SMA," ujar Kadinkes Sulsel, dr Rachmat Latief, SpPD yang mendampingi Menkes Nila, disambut riuh tawa pengunjung lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imran yang juga baru menyadari bahwa dirinya adalah adik angkatan dr Rachmat hanya bisa tersipu. Jalan hidupnya memang sangat kontras dengan sang kakak angkatan. Sejak perkenalannya dengan putaw di bangku SMA, Imran baru tobat dan beralih ke methadon pada 2014. Itu pun setelah dibujuk rekannya sesama pecandu yang sudah lebih dulu tobat.
Methadon yang merupakan versi sintetis dari putaw memang tidak serta merta membuatnya sembuh dari ketergantungan. Setidaknya, methadon yang dipakai dengan cara diminum bisa menjauhkannya dari perilaku berisiko yakni tukar menukar jarum suntik.
Sebelum mengenal methadon, Imran juga sempat terlilit utang untuk membeli putaw. Sepaket ditebusnya Rp 50 ribu, dan pada masanya ia pernah mengonsumsi hingga 3 paket setiap harinya. Jika absen sehari saja tidak nyuntik, ia akan mengalami sakaw hebat.
"Badan itu rasanya seperti dicambuki orang sekampung. Makanya disebut sakaw, sakit karena putaw," kenang Imran yang mengaku sangat terbantu oleh terapi methadon secara gratis di Puskesmas Kassi-kassi.
Mawardi, petugas harm reduction Puskesmas Kassi-kassi menyebut ada sekitar 245 pecandu yang terdaftar sebagai peserta PTRM (Program Terapi Rumatan Methadon). Namun dari angka tersebut, hanya 45 yang aktif termasuk Imran, sedangkan sisanya lost contact.
"Yang jelas nggak banyak yang bertahan Mas, teman-teman saya sudah mati semua. Kalau nggak OD (Over Dosis) ya kena HIV (Human Imunnodeficiency Virus)," kata Imran.
Selain PTRM, para pecandu yang belum bisa meninggalkan narkoba suntik juga mendapat akses jarum suntik steril di Puskesmas Kassi-kassi. Tujuannya sama, yakni mengurangi dampak buruk penyalahgunaan narkoba suntik.
Memang, harapannya para pecandu bisa meninggalkan perilaku tersebut. Namun tidak selalu mudah, seperti pengakuan Imran yang seumur hidupnya akan selalu dibayangi siksaan sakaw jika tidak ada obat masuk ke tubuhnya.
"Buat yang belum (memakai narkoba), sudahlah. Jangan sekali-kali mencoba. Nggak ada untungnya, kecuali mau cepat mati," pesan Imran emosional.
Baca juga: Menkes Nila: Soal Narkoba, Orang Indonesia Terlalu 'Kreatif'
(up/vit)











































