Rabu, 11 Mar 2015 19:01 WIB

Diam-diam Kasus Lupus Meningkat, Ini Gara-garanya

- detikHealth
ilustrasi (Foto: thinkstock) ilustrasi (Foto: thinkstock)
Yogyakarta - Ahli penyakit dalam dari RSUP Dr Sardjito mengakui bahwa angka kenaikan kasus lupus di Yogyakarta maupun di Indonesia memang tidak sedrastis kasus yang lebih umum seperti demam berdarah. Namun penyakit ini tidak bisa dianggap sepele begitu saja.

"Kebanyakan pasien kita rawat jalan, memang kalau sudah berat baru pasien diminta mondok. Dan itu dalam tiga bulan terakhir mencapai 15-20 orang," ungkap dr Deddy Nur Wachid A, M.Kes., SpPD-KR dari Bagian Penyakit Dalam RSUP Dr Sardjito saat ditemui dalam jumpa pers simposium 'National Friendly Treatment on Lupus and Musculoskeletal Disorders', Rabu (11/3/2015).

Simposium tentang lupus ini rencananya akan digelar RSUP Dr Sardjito di Yogyakarta pada tanggal 25-26 April 2015.

Baca juga: Peneliti Australia Berhasil Identifikasi Penyebab Penyakit Lupus


Kendati begitu, peningkatan ini dirasa bukan karena lupus semakin merajalela. Tapi lebih kepada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan dini saat jatuh sakit dan ragam penyakit yang ada di masyarakat.

"Saya kira adanya BPJS atau JKN, fasilitas kesehatan yang mudah diakses ini juga mendorong pasien yang dulunya tidak mengira sakitnya karena lupus, jadi terdorong untuk ke dokter," paparnya.

Lagipula, dr Deddy menegaskan lupus tak dapat dideteksi oleh orang awam. Bahkan untuk memberikan diagnosis lupus, dokter sendiri masih harus melalui berbagai tahapan. "Ironisnya, kalau kita bisa temukan diagnosisnya dengan cepat, itu berarti lupus yang dialami si pasien sudah parah, sudah sampai ke organ dalamnya," imbuh Prof Dr dr Nyoman Kertia, SpPD-KR dalam kesempatan yang sama.

Prof Nyoman kemudian menjelaskan di Indonesia sendiri, prevalensi lupusnya 5 orang untuk tiap 100.000 penduduk. Dan di DI Yogyakarta yang berpenduduk sekitar 3 juta orang, diperkirakan angka penderita lupusnya mencapai 2.000 orang, meskipun sebagian besar dari mereka tidak tahu-menahu soal penyakit ini.

"Sebenarnya lupus bisa dicegah. Jadi setelah gejalanya ketahuan, dokter akan memberikan obat-obatan immunosuppresive, yang nantinya akan menghentikan sel-sel imun untuk menyerang dirinya sendiri," tandas dr Eddy.

Seperti kita ketahui, lupus tergolong sebagai penyakit autoimun, di mana penyebabnya adalah sel-sel kekebalan tubuh menyerang dirinya sendiri. Menurutnya, pasien lupus yang sampai meninggal itu bukan karena semata gejala awalnya tidak tertangani, namun karena pada akhirnya kondisi tersebut 'memudahkan' sel imun untuk melakukan manifestasi dengan menyerang organ-organ dalam yang vital.

Untuk itu dr Eddy berharap dalam waktu dekat, di RSUP Dr Sadjito akan didirikan Lupus Center. "Kalau masih awal, mungkin kita baru temukan 2-3 gejala, tapi kalau kita ikuti mungkin dalam 6 bulan itu bisa jadi lupus. Dan kalau sudah parah dan mengenai organ lain, Lupus Center ini dapat mengakomodasi hal itu dan memberikan penanganan yang komprehensif terhadap pasien lupus," katanya.

Rencananya Lupus Center ini akan dibuka pada bulan Mei mendatang, bertepatan dengan peringatan Hari Lupus Sedunia yang jatuh pada bulan Mei.

Baca juga: Berharap Obat Murah & Mudah Didapat untuk Pasien Lupus

(lil/vta)
News Feed