Rabu, 18 Mar 2015 14:20 WIB

Pasangan Punya Peran Agar Pria Lebih Rutin Skrining Kanker Usus Besar

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Kansas - Jika memiliki riwayat keluarga dengan kanker usus besar atau kolon, pria disarankan mulai melakukan skrining sejak berusia 40 tahun. Rupanya, untuk masalah skrining kanker usus, status kesendirian seseorang juga turut berperan.

Berdasarkan studi dari University of Kansas, pria yang hidup sendiri alias belum menikah atau belum memiliki kekasih, lebih tidak rutin menjalani skrining kanker usus, dibandingkan dengan mereka yang menikah atau memiliki kekasih.

Peneliti menemukan bahwa pria yang menikah atau memiliki pasangan lebih peduli dan mau mengikuti U.S Preventive Task Force Screening Guidelines untuk kanker usus. Ini berarti mereka sudah melakukan tes feses dalam setahun terakhir, sigmoidoscopy dalam lima tahun terakhir, tes feses sensitif dalam tiga tahun terakhir, dan kolonoskopi dalam sepuluh tahun terakhir.

"Sementara pada orang yang tinggal sendiri, mereka tidak terlalu rutin melakukan skrining. Hal ini berkaitan di mana pasangan membantu untuk memantau bahkan turut mendorong seseorang menjadi lebih bijak terhadap gaya hidupnya, salah satunya melakukan skrining kesehatan, termasuk kanker usus," tutur salah satu peneliti Robert Hines, PhD.

Baca juga: Skrining, Satu-satunya Cara untuk Cegah Makin Parahnya Kanker Kolon

Apalagi, tambah Hines, metode skrining kanker usus umumnya membutuhkan sedasi. Sehingga, baiknya seseorang ditemani oleh anggota keluarganya, terutama pasangan. Terlepas dari status kesendirian, Hines menekankan bahwa semua orang perlu melakukan skrining kesehatan.

Dikutip dari Men's Helath, Rabu (18/3/2015), Hines mengimbau agar para pria yang berusia di atas 50 tahun rutin melakukan skrining kanker usus, mengikuti rekomendasi dari American Cancer Society. Jika ada riwayat keluarga dengan kanker usus, maka skrining bisa dilakukan lebih dini, di usia 40 tahun.

"Kanker usus besar merupakan kanker pembunuh kedua meski faktanya penyakit ini bisa dicegah dengan deteksi dini. Apalagi, deteksi dini membuat penanganannya lebih mudah dan angka harapan hidup pasien lebih besar," tambah Hines.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat saling mengingatkan pentingnya deteksi dini suatu penyakit atau minimal skrining kesehatan. Dengan kata lain, Hines berharap seseorang yang memiliki pasangan atau sendiri pun, dengan bantuan teman atau keluarga bisa tetap melakukan deteksi dini suatu penyakit.

Baca juga: Dokter Jerman: Tuna Netra Lebih 'Peka' Deteksi Kanker Payudara

(Radian Nyi Sukmasari/Nurvita Indarini)