Penelitian yang dipublikasikan di jurnal JAMA Facial Plastic Surgery tersebut melibatkan 20 anak berusia 5-19 tahun. Anak-anak tersebut mempunyai telinga yang dikategorikan capang dan hendak menjalani otoplasty, yakni operasi untuk memperbaiki bentuk daun telinga.
Foto keduapuluh anak tersebut diperlihatkan pada sekelompok pengamat. Sebagian di antaranya sudah diedit secara digital, sehingga telinganya tidak capang meski sebenarnya belum dioperasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil pengamatan menunjukkan, para pengamat menghabiskan waktu lebih lama saat melihat foto anak dengan telinga capang. Mereka menghabiskan 10 persen waktunya untuk mengamati telinga capang, dibandingkan dengan hanya 6 persen untuk mengamati telinga yang normal.
Para ilmuwan meyakini, pengamat membutuhkan waktu lebih lama saat melihat foto anak bertelinga capang karena tampak lucu. Secara alami, manusia cenderung lebih tertarik untuk mengamati sesuatu yang penampilannya berbeda, tetapi tidak selalu dalam arti negatif.
"Telinga capang mungkin menambah kelucuan (cuteness) mereka," kata Dr Ralph Litschel, ahli bedah pastik wajah dari Cantonal Hospital St Gallen di Swiss, yang memimpin penelitian ini, seperti dikutip dari Livescience, Senin (23/3/2015).
Baca juga: Kena Microtia, Bocah Ini Dibuatkan Telinga dari Tulang Rusuknya (AN Uyung Pramudiarja/AN Uyung Pramudiarja)











































