Bagaimana bisa ada peta di permukaan lidah? Inilah yang kemudian disebut dengan 'lidah geografis' (geographic tongue). Orang dengan 'lidah geografis' mempunyai lidah dengan permukaan yang dipenuhi belang-belang putih. Bila dilihat sekilas belang-belang ini membentuk gambar benua, pulau, atau dengan kata lain mirip peta.
Baca juga: Kemampuan Mengecap Gurih Berkaitan Terhadap Kesehatan Seseorang
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lidah itu semacam sistem yang hanya bisa dilewati dengan pola tertentu, seperti halnya kobaran api yang bisa menembus hutan. Api ini akan mulai membakar seluruh bagian hutan dan baru berhenti setelah semuanya hangus. Jadi ketika ada satu papilla yang meradang, maka akan tersebar ke penjuru lidah," terang salah satu peneliti, Gabriel Seiden dari Weizmann Institute of Science, Israel.
Untungnya lidah dapat memulihkan dirinya sendiri. Hanya saja karena 'lidah geografis' tergolong sebagai kondisi kronis, proses pemulihan itu tak kunjung selesai, bahkan terjadi secara berulang-ulang.
Dari sini peneliti juga mencatat temuan lain, yaitu dengan adanya dua jenis kondisi 'lidah geografis'. Pada jenis pertama, pola peradangannya berawal dari titik-titik kecil di tengah lidah yang kemudian menyebar dalam bentuk lingkaran.
"Persis seperti aliran api yang merembet dan tak dapat kembali ke sumbernya," kata Seiden seperti dikutip dari Livescience, Kamis (9/4/2015).
Sedangkan pada jenis kedua, persebaran titik-titiknya membentuk pola spiral, sehingga bisa mencapai bagian lidah lain yang sebenarnya tengah memulihkan diri dari peradangan. Akibatnya peradangan terjadi kembali, atau bahkan tak kunjung sembuh. "Untuk jenis yang ini, kebanyakan ditemukan pada orang dewasa," imbuhnya.
Efek samping dari kondisi ini adalah nyeri ringan dan iritasi yang terjadi pada lidah, meskipun tak sepenuhnya berbahaya. Obatnya dapat diperoleh dengan mudah, kendati hanya bisa meredakan gejala dari 'lidah geografis' itu sendiri.
"Setidaknya temuan ini dapat menambah pemahaman tentang 'lidah geografis' dan mungkin membantu dokter atau tim medis lain dalam mengidentifikasi kondisi tersebut," harap Seiden.
'Lidah geografis' sendiri pertama kali dilaporkan pada kisaran tahun 1830-an. Selama ini para pakar hanya menduga kondisi ini ada kaitannya dengan peradangan kulit bernama psoriasis. Dugaan lain, 'lidah geografis' dipicu oleh kinerja sistem kekebalan seseorang yang terlalu aktif. Sejauh ini, 'lidah geografis' diprediksi hanya terjadi pada dua persen dari populasi saja.
Baca juga: Tak Cukup Cuma Sikat Gigi, Agar Mulut Sehat Lidah Juga Harus Dibersihkan (Rahma Lillahi Sativa/Nurvita Indarini)











































