dr Jacub Pandelaki, SpRad(K) dari RS Bethsaida mengatakan bahwa DSA merupakan pengembangan dari teknologi yang sudah ada. Prinsipnya menggunakan flouroskopi, dalam artian memasukkan zat ke dalam tubuh yang dapat menghasilkan warna ketika difoto menggunakan sinar x-ray.
"Kalau udah ada flouroskopi buat gastritis kan, jadi nanti hasil foto x-ray menunjukkan pendar-pendar cahaya tempat adanya peradangan. Cuma teknologi dulu kekurangannya kan semuanya ke foto, termasuk tulang dan organ tubuh lain di sekitarnya," tutur dr Jacub dalam temu media di Penang Bistro, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Jumat (10/4/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teknologi DSA memungkinkan hanya pembuluh darah yang terfoto. Hal ini mempermudah dokter dalam mengalisis letak pembuluh darah yang bermasalah sebelum dilakukan tindakan.
Proses operasi dilakukan menggunakan metode minimal invasif, dalam artian tidak ada bagian tubuh pasien yang dibedah. Dokter akan memasukkan kateter melalui pembuluh darah di bagian paha yang akan langsung naik menuju leher.
Setelah itu, kateter akan menembakkan zat khusus yang mengalir di pembuluh darah otak. Secara bersamaan, dokter dapat memantau bagian pembuluh darah secara real-time menggunakan komputer.
"Jadi nanti kelihatan, bagian pembuluh darahnya yang menyempit yang mana, yang pecah yang mana. Nggak sampai 15 menit sudah selesai, kalau dokternya berpengalaman," ungkap dr Jacub lagi.
Baca juga: 85 Persen Stroke Dapat Dicegah, Yuk Ubah Pola Hidup Jadi Lebih Sehat
Selain untuk diagnosis, dr Jacub juga mengatakan DSA bisa digunakan sebagai metode intevensi penyakit stroke. Dalam artian, cairan yang ditembakkan melalui kateter ternyata juga dapat menembus plak dan lemak yang menyumbat pembuluh darah.
Meski begitu, ia mengakui bahwa penggunaan DSA sebagai intervensi penyakit stroke masih diperdebatkan di kalangan dokter. Sebabnya, belum banyak penelitian yang bisa membuktikan bahwa DSA ternyata juga mempunya efek pengobatan, bukan hanya sebagai sarana diagnosis.
"Memang masih pro dan kontra, dokter saraf juga ada yang pro ada juga yang kontra. Tapi ini di Amerika sudah diakui sebagai golden standard untuk stroke, terutama yang di pembuluh darah Vena," paparnya.
"Namanya ilmu kedokteran kan nggak ada yang absolut, selalu berkembang. Kalau pasien saya memang mengakui setelah dilakukan DSA lebih enakan, sudah jarang pusing. Memang fungsinya utamanya sebagai alat deteksi tapi juga mempunyai manfaat intervensi," tuturnya lagi.
Bayi baru lahir menangis tanpa air mata, benarkah? Simak 50 fakta bayi baru lahir di sini
(Muhamad Reza Sulaiman/Nurvita Indarini)











































