"Ada pemeriksaan schirmer test untuk tahu dari kuantitas air mata. Itu tolok ukurnya 20 mm. Jadi kalau di bawah 15-20 mm, kurang baik kuantitasnya," tutur dr Yulia Aziza SpM, MKes dari Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia.
Selain schirmer test, bisa pula dilakukan Tear break-up Time (TBUT). Pada tes ini, akan diteteskan obat pewarna di kornea, kemudian orang yang bersangkutan diminta berkedip. Akan dilihat butuh waktu berapa lama zat pewarna akan menguap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Agar Mata Tak Cepat Lelah Saat di Depan Komputer
Pada orang dengan kualitas dan kuantitas air mata yang kurang baik, mudah sekali terjadi Dry Eye Syndrome. dr Aziza menuturkan, keluhan ini umumnya dialami oleh mereka yang berusia di atas 40 tahun. Kemudian, jika aktivitas yang dilakukan kebanyakan di ruangan ber-AC serta sering menatap komputer karena mata akan kurang berkedip.
"Gejalanya itu mata terasa mengganjal, perih, kering, bahkan berair. Kapan berobat? Tergantung pasien ya karena gangguan ini umumnya bersifat subjektif. Ada orang yang matanya sudah kering tapi masih bisa bertahan ya nggak masalah, tergantung individunya," papar wanita berkerudung ini.
Bagi orang dengan mata kering, masih bisa jika ingin menggunakan lensa kontak, tetapi jika skala mata kering yang dialami masih ringan. Sebab, penggunaan lensa kontak dapat dibantu dengan lubrikasi guna menjaga mata tetap lembab.
Baca juga: Jangan Anggap Remeh! Mata Merah Usai Operasi Bisa Jadi Tanda Infeksi
(rdn/up)











































