"Bunyi gemeretak yang disebabkan oleh pembentukan antara rongga tulang yang diisi gas yang telah dilumasi dengan cairan sinovial. Bunyi gemeretak jari bisa terjadi dalam waktu kurang dari 310 milidetik," ucap ketua peneliti, Greg Kawchuk, profesor bidang rehabilitasi dan obat-obatan di University of Alberta, Kanada.
Untuk studi ini, para peneliti mencoba mempraktikkan menggeretakan jari di dalam air, lalu bunyi yang keluar sama dengan ketika jari digemeretakkan di luar air. "Saya cukup menyukai suara itu, dan aku hanya berbicara di dalam hati" tutur Greg, dikutip dari Reuters, Kamis (16/4/2105).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian pertama sempat dilaksanakan pada tahun 1974 di mana peneliti menemukan bahwa gemeretak pada jari dihasilkan dari pembentukan rongga gas di dalam sendi. Namun, studi lain di tahun 1971 menemukan fakta lainnya yaitu dikatakan bunyi tersebut diperoleh dari hilangnya gas dalam sendi yang dapat memicu bunyi gemeretak.
Dalam penelitian terbaru, para ilmuan menarik jari seseorang dan melihat apa yang terjadi melalui video dari Magnetic Resonance Imaging (MRI) guna memperlihatkan gambar detail dari struktur tubuh saat dilakukan uji coba. Salah satu penulis memasukkan jari-jarinya masing-masing ke dalam tabung yang terhubung dengan kabel. Kemudian, seluruh jari ditarik hingga mengeluarkan bunyi gemeretak.
"Penggunaan MRi ideal untuk studi ini karena memungkinkan visualisasi yang jelas dari tulang, cairan dan pembentukan rongga udara di sekitar jari-jemari. Saya pribadi tidak suka bunyi dari jari yang digemeretakkan karena saya membayangkan pasti ada kerusakan akibat kegiatan tersebut," kata Richard Thompson, profesor teknik biomedis di University of Alberta.
Seperti halnya kebiasaan memilin rambut dan menggoncangkan kaki, banyak orang yang membunyikan jari-jari tangan merasakan sensasi nyaman dan enak. Bahkan, beberapa orang merasa bisa melepaskan energi negatif dan rasa lelahnya. Meski beberapa orang mengaku kondisinya tangannya lebih baik usai menggemeretakkan jari, kebiasaan bisa saja menimbulkan ketidaknyamanan pada tangan.
Dikatakan dr Margareta Arianni, SpOT dari RS Premiere Bintaro, 'membunyikan' tangan umumnya melibatkan urat dan ligamen. Hal itu tidak masalah, asalkan anatomi tangan masih normal-normal saja. Justru yang menjadi masalah jika jari mengalami perubahan pada anatomi. Misalnya ketika ligamen cedera, longgar, atau robek, diungkapkan dr Margareta kebiasaan membunyikan tangan justru akan menambah kerusakan yang ada.
(rdn/vit)











































