Gara-gara Bacterial Vaginosis Saat Hamil, Amanda Melahirkan Bayi Prematur

Gara-gara Bacterial Vaginosis Saat Hamil, Amanda Melahirkan Bayi Prematur

Nurvita Indarini - detikHealth
Jumat, 17 Apr 2015 08:41 WIB
Gara-gara Bacterial Vaginosis Saat Hamil, Amanda Melahirkan Bayi Prematur
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Umumnya bayi lahir di usia kehamilan 39-40 minggu. Meski demikian maju atau mundur maksimal dua minggu masih bisa dikatakan normal. Namun Amanda Butler (42) melahirkan prematur, di mana usia kehamilannya baru 25 minggu. Ditengarai penyebabnya adalah bakterial vaginosis (BV) yang merupakan infeksi bakteri di vagina.

Bayi Amanda yang kemudian diberi nama Callum lahir dengan berat badan sekitar 708 gram. Tak lama setelah lahir, si kecil pun harus menjalani operasi jantung, pungsi lumbal (tindakan mengambil cairan serebrospinal), laser mata, serta butuh transfusi darah. Sebagai seorang ibu baru, tentu Amanda merasa sedih melihat anaknya harus berjuang keras di awal-awal hidupnya. Beruntung kini Callum kemudian tumbuh sebagai anak yang sehat dan ceria.

Kala itu dokter memberi tahu Amanda bahwa kelahiran prematur ini dikarenakan BV saat dirinya hamil. Mengetahui itu, Amanda pun berharap ibu-ibu yang lain lebih waspada terhadap BV sejak awal kehamilannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Bila Bakteri dalam Vagina Berlebih

Gejala BV antara lain ada perubahan pada cairan vagina, di mana cairannya tipis dan berwarna keabu-abuan, disertai bau amis tidak menyenangkan yang kuat, umumnya muncul setelah berhubungan seks. BV biasanya tidak berhubungan dengan rasa nyeri, gatal atau iritasi.

Sekitar seminggu sebelum bayinya lahir, Amanda menyadari ada keputihan berlebihan. "Tapi saya tidak terlalu memperhatikannya karena kehamilan juga bisa menyebabkan hal itu terjadi. Hal itu juga tidak menjadi perhatian bidan saya," kata Amanda.

Peneliti mengalami kesulitan menentukan penyebab bakterial vaginosis. Bakterial vaginosis umumnya terjadi karena pengurangan jumlah hidrogen peroksida normal yang memproduksi lactobacilli dalam vagina. Secara bersamaan, ada peningkatan konsentrasi bakteri jenis lain, terutama bakteri anaerob (bakteri yang bisa tumbuh tanpa oksigen). Akibatnya, diagnosis dan pengobatan tidak sesederhana seperti mengidentifikasi dan menghilangkan salah satu jenis bakteri. Penggabungan bakteri menyebabkan infeksi yang tidak diketahui.

Beberapa faktor telah diidentifikasi dapat meningkatkan peluang terjadinya bakterial vaginosis, seperti berhubungan seks dengan banyak pria, merokok, pola makan tak sehat, kelelahan, menggunakan bahan kimia (cairan pembersih), atau obat-obatan tertentu. Namun bakterial vaginosis juga dapat terjadi pada wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual.

Dalam kehamilan, bakterial vaginosis dapat menyebabkan kelahiran prematur, infeksi cairan ketuban, dan infeksi rahim setelah melahirkan. Paul Casey, Training Manager di Badan Amal Kesehatan Seksual FPA menambahkan bakterial vaginosis juga bisa menyebabkan keguguran dan juga bayi lahir dengan berat badan rendah.

"Bakterial vaginosis dapat diobati dengan aman ketika Anda sedang hamil dan ketika Anda menyusui. Ini tidak akan membahayakan bayi, tapi beritahu dokter atau perawat jika Anda sedang hamil, karena akan mempengaruhi jenis pengobatan yang diberikan," kata Casey dikutip dari Huffington Post, Jumat (17/4/2015).

Baca juga: Cairan Vagina Berbau Seperti Telur

Biasanya dokter akan bertanya tentang gejalanya dan memeriksa vagina Anda. Dalam beberapa kasus, cairan vagina akan diambil untuk memastikan kondisi yang terjadi. Jika memang Anda terkena BV maka dokter biasanya akan merepkan antibiotik. Selain itu akan diberikan pula krim atau gel untuk vagina yang digunakan selama sepekan. Beberapa kasus, pasien diberi gel asam laktat, yang dapat membantu untuk mengembalikan keseimbangan pH di dalam vagina.

"Perawatan ini sangat efektif meskipun cukup umum jika BV datang kembali sehingga beberapa wanita mengalaminya secara berulang," ucap Casey.

dr Eddy Karta, SpKK menyebut BV lazim terjadi pada tubuh yang lelah dan akibat perubahan tingkat keasaman vagina, yang dalam hal ini disebabkan karena perdarahan. Pertolongan pertama adalah dengan membersihkan daerah kemaluan dengan cairan antiseptik yang khusus kewanitaan saat masih mengeluarkan cairan. Dengan pembersihan yang baik diharapkan kondisi ini juga akan membaik.

(Nurvita Indarini/AN Uyung Pramudiarja)

Berita Terkait