Di Tahun 2019, Rencananya Akan Ada Tambahan 5 Imunisasi Dasar Lengkap

Di Tahun 2019, Rencananya Akan Ada Tambahan 5 Imunisasi Dasar Lengkap

- detikHealth
Senin, 20 Apr 2015 15:05 WIB
Di Tahun 2019, Rencananya Akan Ada Tambahan 5 Imunisasi Dasar Lengkap
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta - Selama ini, di Indonesia imunisasi dasar lengkap bagi anak-anak mencakup pemberian delapan vaksin yakni difteri, polio, tetanus, campak, tuberculosis, BCG, pneumonia, hepatitis B, dan meningitis. Rencananya, di tahun 2019 vaksin akan ditambah menjadi 13 vaksin.

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes RI dr H.M. Subuh, MPPM, mengatakan jumlah vaksin perlu ditambah karena makin banyaknya paparan penyakit yang ada. Apalagi, dibanding negara tetangga yang sudah memiliki 13 antigen, bahkan Amerika Serikat sudah mempunyai 15 antigen.

"Sudah saatnya Indonesia melakukan itu. Ditambah lagi banyak penyakit yang secara potensial memengaruhi tumbuh kembang anak. Saat ini sedang dalam masa persiapan akan masuk di kita vaksin rubella, pneumococcus, injectable polio vaccine, rotavirus, dan japanese encephalitis. Penyakit itu masih mengancam di Indonesia," terang Subuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ditemui di Kantor Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (20/4/2015), Subuh menuturkan saat ini, di Indonesia, rata-rata imunisasi dasar lengkap sudah mencapai target. Namun, perlu diwaspadai masalah disparitas atau gap di antara kabupaten atau desa. Sebab, cakupan Universal Child Immunization (UCI) tahun 2002-2014 rata-rata masih kurang dari 80%.

Baca juga: Kemenkes Sebut KLB Difteri Terjadi karena Anak Tak Dapat Imunisasi Lengkap

Idealnya angka UCI, dikatakan Subuh memang 100% tetapi jika di lapangan sudah mencapai 90%, maka perlindungan kesehatan melalui imunisasi sudah dilakukan secara universal. Target UCI sendiri minimal 90%. Data Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) tahun 2014 mencapai 86,8% sementara UCI desa 82,8%.

"Target IDL 93% sampai 2019. Sementara UCI desa 92%, artinya tidak boleh satu pun desa di suatu kabupaten cakupan imunisasinya kurang dari 90%. Misalnya mencapai angka 92% di satu kabupaten tetapi ada satu desa yang cakupannya hanya 85%, tidak dianggap UCI. Ini PR berat bagi kita untuk memeratakan imunisasi meskipun tidak hanya masalah memberi imunisasi saja tetapi bagaimana kita menjaga mutu imunisasi yang diberikan," terang Subuh.

Sementara, gap pemerataan imunisasi dikatakan Subuh disebabkan karena variasi geografis yang masih sulit, masalah sosial ekonomi seperti isu halal haram di beberapa daerah, lalu adanya isu bahwa imunisasi bisa menyebabkan autis. Kemudian, ada pula hambatan jumlah vaksin dan jarum suntik yang disediakan oleh pemerintah pusat. Untuk mengatasi kendala ini, salah satu upaya yang dilakukan Kemenkes yakni menggelar Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional.

Pada tanggal 26 April 2015 mendatang, Kemenkes melakukan kegiatan acara puncak Pekan Imunisasi Dunia. Rangkaian kegiatan ini adalah awal kegiatan kampanye peduli kesehatan ibu dan anak yang akan berjalan selama 9 bulan, dimulai dari tanggal 21 April di Hari Kartini hingga 22 Desember, bertepatan dengan Hari Ibu.

"Pekan Imunisasi Dunia 2015 tanggal 24-30 April akan dilakukan intensifikasi layanan imunisasi di setiap daerah selama 7 hari, hari libur tetap buka. Dilakukan juga sweeping imunisasi, pelatihan manajemen imunisasi, dan mengingatkan pada masyarakat pentingnya imunisasi untuk mencegah penyakit karena imunisasi adalah cara yg efisien dan efektif untuk menanggulangi penyakit," pungkas Subuh.

Baca juga: Imunisasi MMR Bikin Anak Jadi Autis, Benarkah?



(rdn/vit)

Berita Terkait