Ini Caranya Agar Petugas Medis Terhindar dari Penularan TB

Ini Caranya Agar Petugas Medis Terhindar dari Penularan TB

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 23 Apr 2015 15:46 WIB
Ini Caranya Agar Petugas Medis Terhindar dari Penularan TB
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Di fasilitas layanan kesehatan (fasyankes), pencegahan penularan infeksi mutlak diperlukan terutama bagi petugas medis. Tuberkulosis (TB) menjadi salah satu penyakit yang harus diwaspadai, termasuk penularan pada petugas medis, mengingat penularannya melalui udara.

Nurjannah, SKM, MKes dari subdit AIDS Ditjen P2PL Kemenkes menuturkan lewat droplet atau percikan cairan saat batuk, kuman TB akan mudah menginfeksi orang lain, termasuk petugas medis. Risiko infeksi akan lebih mudah jika tidak ada pelindung pada petugas medis seperti masker.

"Selain itu, ventilasi udara juga memegang peranan penting. Kalo ventilasinya nggak bagus, kuman yang dibatukkan tidak ada jalan keluar. Maka, pada fasyankes yang sudah memiliki kolaborasi layanan HIV dan TB perlu pengaturan penempatan ruangan yang tepat dan ventilasi udara yang baik," tutur Nurjannah ditemui di Unika Atmajaya, Jakarta, dan ditulis pada Kamis (23/4/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belum lagi jika petugas medis tertular Multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB), maka pengobatan bisa lebih lama yakni mencapai 20 tahun, dibanding waktu penanganan TB pada umumnya yang memakan waktu 6-9 bulan. Penggunaan AC atau kipas angin di ruang pelayanan TB menurut Nurjannah tidak masalah selama dijaga kebersihannya dan dipastikan pertukaran udara berjalan baik. Khusus penggunaan kipas angin baiknya perhatikan letak kipas angin, jangan ditaruh di bagian belakang pasien.

Baca juga: Gejala TBC pada Anak


"Pasien batuk, kipas angin justru memudahkan perpindahan kuman ke petugas. Harusnya kipas angin ditaruh di belakang petugas, jadi bisa ditangkal itu kumannya. Tapi tetap ya, pakai masker. Pasien juga waktu batuk ditutup dengan bagian lengan, bukan telapak atau punggung tangan," lanjut Nurjannah.

Terkait risiko TB pada ODHA, saat ini, Kementerian Kesehatan berusaha memulai penemuan kasus TB secara aktif di tingkat komunitas populasi kunci yang terdampak oleh HIV-AIDS dengan mengembangkan proyek TB REACH. Tujuannya, meningkatkan penemuan kasus TB pada populasi kunci dan mendukung upaya akselerasi tes HIV dan inisiasi dini ARV. Alasan mengapa populasi kunci dalam penanggulangan AIDS dijadikan sasaran dalam penemuan kasus TB aktif di antaranya prevalensi populasi kunci HIV yang tinggi mengakibatkan kelompok ini rentan terhadap TB.

"Sehingga TB menjadi infektif penyerta paling banyak pada orang dengan HIV positif. Secara khusus, pengguna napza suntik adalah kelompok dengan angka kesakitan dan kematian akibat TB yang tinggi. Mayoritas populasi kunci diperiksa TB saat status HIV sudah positif sehingga perawatan terlambat. Selain itu, masih ada stigma terhadap kelompok marginal sehingga mereka cenderung tidak mencari bantuan ke layanan kesehatan," terang Nurjannah.

Baca juga: Begini Bentuk Integrasi Pelayanan TB-HIV di Puskesmas Tebet

(Radian Nyi Sukmasari/Nurvita Indarini)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads