"Jangan stres. Itu kuncinya. Jika kita stres, maka hormon-hormon negatif akan keluar, dan bisa membuat kesehatan terganggu, serta meningkatkan radikal bebas dalam tubuh," tutur Dr Chan Kin Ming, pakar kesehatan geriatri dari Gleneagles Hospital, dalam media interview Annual Scientific Meeting Gleneagles Hospital di Sheraton Tower, seperti ditulis Senin (27/4/2015).
Stres yang tak tertangani dalam jangka panjang dapat menyebabkan depresi. Nah, depresi dapat mengganggu kualitas tidur seseorang, dan kualitas tidur sangat erat kaitannya dengan kualitas hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seseorang yang depresi, lanjut Dr Chan, biasanya memiliki dua masalah tidur. Pertama, mereka mudah untuk tidur, namun kerap mengalami mimpi buruk dan bangun tidur lebih awal. Jika Anda tidur pukul 10.00 malam dan kerap terbangun pukul 2 atau 3 dini hari lalu sulit tidur lagi, bisa jadi Anda depresi.
Masalah tidur yang kedua adalah sulit untuk tidur. Dikatakan Dr Chan, lansia yang mengalami kesulitan tidur biasanya bercerita soal ingatan-ingatan masa lalu. Ingatan ini muncul secara tiba-tiba dan tanpa diminta.
"Ini disebut sebagai broken memory record, jadi bukan karena kita ingin mengingat itu, tapi ingatannya bocor, jadinya keluar tanpa kita minta. Ini merupakan salah satu tanda demensia," tambahnya lagi.
Baca juga: 5 Hal Aneh Tapi Mungkin Terjadi Pada Tubuh Ketika Sedang Stres
Dr Ho King Hee, pakar neurologi dari Gleneagles Hospital secara terpisah menyampaikan kaitan antara depresi dan demensia. Meski tak memiliki hubungan sebab akibat, depresi disebutkan tetap akan memperburuk kondisi demensia yang dialami seseorang.
"Pasien demensia akan sulit mengambil keputusan dengan baik, dan kondisi akan diperburuk jika ia mengalami depresi. Jadi bukan depresi menyebabkan demensia atau sebaliknya, tapi depresi memperburuk kondisi demensia yang dialami seseorang," paparnya. (Muhamad Reza Sulaiman/AN Uyung Pramudiarja)










































