Namun penelitian yang membuktikan adanya hubungan antara rokok dengan VO2Max belum banyak dilakukan. Dalam waktu dekat, RS Paru Persahabatan untuk pertama kalinya akan melakukan penelitian tentang hal itu.
"Pertanyaan yang menggelitik selama ini, berapa VO2Max perokok di Indonesia dibandingkan non-perokok? Belum pernah ada penelitiannya di Indonesia," kata dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) dari RS Persahabatan, ditemui di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Rabu (29/4/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dr Agus, teorinya mengatakan bahwa VO2Max pada perokok akan lebih rendah karena fungsi paru-parunya menurun akibat paparan racun rokok. Beberapa penelitian yang membuktikan hal itu sudah pernah dilakukan, tetapi pada populasi di luar negeri.
Di kalangan atlet, VO2Max digunakan sebagai indikator fungsi paru-paru. Jika fungsi paru-paru menurun, baik karena rokok maupun sebab lain, maka nilai VO2Max juga akan menurun.
"Ini mungkin berhubungan juga dengan kemampuan orang melakukan olahraga. Suatu saat mungkin bisa menjawab itu," tandas dr Agus.
Untuk penelitian yang hasilnya direncanakan akan keluar tahun depan ini, sampel yang digunakan tidak dibatasi hanya dari kalangan atlet. Justru, penelitian ini akan mengamati hubungan antara rokok dengan VO2Max pada populasi umum.
Baca juga: Pecah Pembuluh Darah Aorta Juga Rentan Dialami Perokok Wanita (AN Uyung Pramudiarja/Nurvita Indarini)











































