Peneliti Dieter Wolke memahami bahwasanya korban bullying mengalami gangguan pada respons stresnya serta peradangan tingkat tinggi pada tubuhnya. Tak heran bila mereka mudah sakit-sakitan dan memiliki riwayat kesehatan mental yang buruk.
Akan tetapi Wolke penasaran, apakah anak-anak ini benar-benar mengalami gangguan kesehatan mental di masa depan karena di-bully saja atau karena bullying ini disertai dengan perlakuan yang buruk dari keluarganya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Lemah Pengawasan Orang Tua, Anak Rentan Jadi Korban Kejahatan Dunia Maya https://health.detik.com/read/2015/02/10/162950/2829047/764/lemah-pengawasan-orang-tua-anak-rentan-jadi-korban-kejahatan-dunia-maya
Profesor psikologi dari University of Warwick, Coventry itu kemudian mengamati 4.026 anak dari Inggris dan 1.420 anak dari AS. Yang di Inggris, pengamatan dilakukan ketika partisipan berusia 8, 10, dan 13, sedangkan yang di Amerika berlangsung saat partisipan berusia 9-16 tahun. Orang tua mereka pun dilibatkan.
Tim peneliti kemudian melakukan follow-up saat seluruh partisipan menginjak usia 18-25 tahun, dan melihat apakah mereka mengalami gangguan mental seperti depresi, ansietas atau gangguan kecemasan, cenderung menyakiti diri sendiri, dan berpikir untuk bunuh diri.
Ternyata, mereka yang di-bully teman-temannya namun tidak mendapatkan kekerasan fisik, mental, seksual maupun pembiaran dari keluarganya berisiko empat kali lebih besar mengalami depresi daripada anak yang sering dianiaya anggota keluarga tapi tidak merasakan bullying.
Dengan kata lain anak-anak yang di-bully dipastikan lebih berisiko mengalami gangguan mental di masa depan ketimbang anak yang mendapat perlakuan buruk dari keluarganya saja. "Masyarakat menganggap kekerasan pada anak merupakan masalah serius, dan korbannya pun didukung, tapi mereka tidak melihat bullying dengan pandangan yang sama," ungkap Wolke seperti dikutip dari Foxnews, Senin (4/5/2015).
Malah banyak yang mengira bullying hanyalah satu tahapan yang harus dilalui setiap orang dalam hidup, dan dari situlah seseorang akan tumbuh menjadi pribadi yang tegar.
"Yang tidak diketahui orang adalah bullying mengubah seseorang menjadi rendah diri dan kehilangan rasa percaya terhadap orang lain. Bisa dikatakan dikucilkan dari masyarakat merupakan salah satu hal terburuk yang dihadapi manusia," imbuhnya.
Pakar psikiatri dari Duke University Medical Center, Dr William Copeland menambahkan, meskipun awareness atau kesadaran orang terhadap bahaya bullying makin meningkat, tapi bukan berarti dukungan yang diberikan masyarakat kepada korban bullying sama besarnya terhadap anak korban kekerasan fisik maupun seksual.
"Mereka dipaksa untuk menghadapi masalah itu seorang diri dan pada akhirnya hal ini memperburuk dampak dari bullying tersebut pada si korban," tutupnya.
Baca juga: Utusan Khusus PBB: Kekerasan pada Anak Kerap Dianggap Normal https://health.detik.com/read/2015/02/26/133214/2843854/763/utusan-khusus-pbb-kekerasan-pada-anak-kerap-dianggap-normal
(Rahma Lilahi Sativa/AN Uyung Pramudiarja)











































