"Sayang sekali kalau ini (RSPI Sulianti Saroso) tidak kita jadikan suatu center untuk penelitian," kata Menkes Nila di sela peringatan Hari Ulang Tahun ke-21 RSPI Sulianti Saroso di Jakarta Utara, Kamis (6/5/2015).
Selama ini, RSPI Sulianti Saroso dinilai lebih fokus pada pelayanan kepada pasien. Aktivitas riset biasanya hanya sebatas isolasi sampel, untuk kemudian dikirim ke Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbangkes).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia, menurut Menkes Nila menhadapi banyak masalah terkait penyakit menular. Selain TB (tuberkulosis) yang semakin kebal terhadap obat, juga ada penyakit-penyakit re-emerging seperti flu burung.
"Flu burung ini seharusnya RSPI Sulianti Saroso bisa mengambil sampel virus, menelitinya apakah masih sama seperti yang dulu. Karena virus itu kadang-kadang berubah," lanjut Menkes Nila.
Namun diakui, untuk mengembangkan sebuah pusat riset memang tidak mudah. Menkes Nila lebih menyarankan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang juga sedang mengembangkan pusat riset.
Baca juga: Kurang Tenaga Ahli, Riset Jamu Belum Mampu Fokus Meneliti Biota Laut
(up/vit)











































