Kemarau Panjang Disertai Hujan Ringan, Bahaya Demam Berdarah Mengintai

Kemarau Panjang Disertai Hujan Ringan, Bahaya Demam Berdarah Mengintai

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Kamis, 21 Mei 2015 18:02 WIB
Kemarau Panjang Disertai Hujan Ringan, Bahaya Demam Berdarah Mengintai
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Menjelang akhir bulan Mei, sudah beberapa kali kota Jakarta dilanda hujan ringan. Pakar mengatakan bahwa pada saat seperti ini masyarakat diminta untuk mewaspadai penyakit demam berdarah.

Dr Budi Haryanto, SKM, MSPH, MSc, Peneliti Perubahan Iklim dan Kesehatan Lingkungan dari Universitas Indonesia mengatakan bahwa hujan ringan disertai dengan cuaca panas berhari-hari setelahnya membuat risiko penyakit demam berdarah meningkat. Sebabnya, genangan air yang terjadi akan cenderung menetap dan membuat nyamuk leluasa untuk berkembang biak.

"Kalau hujan ringan satu hari lalu berhari-hari berikutnya cuaca panas malah nyamuk akan berkembang biak. Karena telur dan jentik nyamuk yang ada di genangan akan menetap, beda kalau hujan terus menerus selama beberapa hari. Airnya kan tidak menggenang dan mengalir, jadi jentik dan telur nyamuk bisa tersapu," tutur Budi, ditemui di Intiland Tower, Jl Jend Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2015).

Baca juga: Masuk Jurnal Internasional, Penelitian RSPAD Buka Peluang 'Kalahkan' DBD


Pria yang sering meneliti pengaruh perubahan iklim terhadap nyamuk ini mengatakan pemukiman padat penduduk seperti Jakarta sangat rawan terserang demam berdarah. Apalagi sekarang nyamuk sudah berevolusi sehingga siklus berkembangbiaknya menjadi lebih cepat.

Dijelaskan Budi, dulu telur nyamuk membutuhkan waktu 12 hingga 14 hari untuk menetas dan menjadi larva. Namun karena perubahan iklim dan temperatur bumi semakin panas, telur nyamuk kini menetas lebih cepat.

"Dulu siklusnya 14 hari telur baru berubah menjadi larva dan kemudian jadi nyamuk dewasa. Sekarang 4-5 hari telur nyamuk juga sudah bisa menetas. Otomatis perubahan dari larva menjadi nyamuk dewasanya juga lebih cepat," ungkapnya.

Karena itu Budi meminta masyarakat untuk lebih waspada. Meskipun hanya turun hujan ringan dan genangan yang timbul sedikit, segera bersihkan agar nyamuk tak mempunyai tempat untuk bertelur. Jangan lupa juga untuk rutin menguras dan membersihkan bak mandi, toren air atau tempat air bersih lainnya minimal satu minggu sekali.

"Kalau sudah menetas jadi larva, ada air sedikit saja nyamuk masih bisa berkembang. Karena itu masyarakat jangan lengah dan jangan lupa juga kalau demam berdarah itu endemik di Indonesia, jadi perubahan cuaca tidak terlalu berpengaruh," tandasnya.

Baca juga: Ditemukan di Makassar, Genotype Baru Virus DBD Gantikan Virus Lama

(Muhamad Reza Sulaiman/Nurvita Indarini)

Berita Terkait