Program dari Puskesmas Kasihan I ini bisa jadi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, di mana anak berkebutuhan khusus dilatih untuk menjadi dokter kecil. Mereka menamakannya dr Lubis (Dokter Luar Biasa). detikHealth berkesempatan berkenalan langsung dengan 8 dari 10 dokter cilik yang dimiliki SLB Bangun Putra, Bangunjiwo Kasihan Bantul.
8 Dokter cilik terdiri atas 5 siswa dan 3 siswi yang berasal dari berbagai kelas. Kebetulan SLB Bangun Putra ini menampung anak-anak berkebutuhan khusus dari usia sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Namun yang terpilih sebagai dokter kecil rata-rata merupakan tuna rungu, tuna wicara dan tuna grahita.
Baca juga: Jumlah Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia Diperkirakan 4,2 Juta
"Ayu sama Fifi sama dr Lina dilatih apa?" tanya Utami Dewi, S.Pd., salah satu pengajar, kepada 4 dokter kecil yang ada di hadapannya.
Dengan malu-malu, Fifi yang merupakan anak dengan tuna grahita ringan menjawab bahwa mereka dilatih cara mencuci tangan yang benar. Sedangkan kepada Erika yang juga tuna grahita ringan, Utami memintanya menunjukkan bagaimana cara menggosok gigi yang benar.
Siswi SMP itu kemudian memperlihatkan gerakan seperti memegang sikat gigi. Sambil meringis, ia pun menggerakkan tangannya membentuk bulatan di depan mulutnya. "Oh bulat-bulat ya," kata Utami.
Saat ditemui, Kamis (21/5/2015), Utami menjelaskan dokter kecil ini terpilih karena kemampuan berkomunikasi mereka yang sudah di atas rata-rata, di samping mandiri.
"Sebetulnya kalau untuk anak C (tuna grahita) kan sudah ada program kemandirian, tapi dari puskesmas anak-anak diajari detailnya. Kemudian puskesmas menginisiasi dokter kecil itu sejak September 2014. Jadi yang terpilih yang sudah bisa mandiri. Kalaupun ada yang nggak bisa (berkomunikasi), tapi dia punya kelebihan bisa menularkan ilmunya ke temen-temen dan adik-adiknya," paparnya.
Ditemui dalam kesempatan terpisah, salah satu tim pembina dokter kecil dari Puskesmas Kasihan I, dr Siti Marlina mengatakan timnya memberikan pelatihan tiap satu bulan sekali. Setiap kali materi baru akan ditambah, materi lama akan diulang terlebih dahulu, baru kemudian materi baru diberikan.
"Memang tidak bisa mandiri secara keseluruhan, artinya tetap butuh pendampingan. Kalau saya cuma ngomong dan mereka mendengarkan saja, itu juga gak efektif, karena mereka cepet bosen jadi kami pakai game, poster dan praktik langsung," jelasnya.
Komunikasi menjadi tantangan terbesar yang dihadapi dr Lina. Meski begitu ia bangga karena anak didiknya kini sudah bisa melakukan tindakan kegawatdaruratan walaupun sederhana. "Pertolongan pertama untuk kecelakaan, misalnya bantu orang pingsan sudah bisa. Kemudian cuci tangan pakai sabun juga sudah bisa. Gosok gigi yang benar juga sudah," katanya.
Tak hanya itu, dr Lina mengungkapkan timnya juga mengajarkan bagaimana caranya membersihkan diri ketika menstruasi atau mengalami mimpi basah. Bahkan dokter-dokter kecil ini juga telah terlatih untuk terlibat aktif dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN), yaitu mencari jentik nyamuk.
Baca juga: Pentingnya Pendidikan Seks Pada Anak Kebutuhan Khusus
Di samping itu, siswa-siswi SLB Bangun Putra juga dibekali kemampuan lain seperti membatik, memasak, pertukangan dan keterampilan tangan lainnya. Utami menambahkan karya anak-anak SLB ini juga sering dipamerkan dalam berbagai even, termasuk di ajang Olimpiade Sains Nasional 2015 yang kini tengah berlangsung di DI Yogyakarta. Beberapa anak yang terpilih sebagai dokter cilik juga merupakan juara di berbagai bidang seperti menyanyi, bulutangkis, dan membaca puisi.
(Rahma Lilahi Sativa/Nurvita Indarini)











































