Angkringan Gelimas Jiwo, Bentuk Pemberdayaan Survivor Sakit Jiwa di Bantul

Angkringan Gelimas Jiwo, Bentuk Pemberdayaan Survivor Sakit Jiwa di Bantul

Rahma Lilahi Sativa - detikHealth
Sabtu, 23 Mei 2015 12:04 WIB
Angkringan Gelimas Jiwo, Bentuk Pemberdayaan Survivor Sakit Jiwa di Bantul
Angkringan Gelimas Jiwo (Foto: lila/detikHealth)
Yogyakarta - Karena kondisi ekonomi yang masih kurang mapan dan letak wilayahnya yang berada di perbatasan dengan Kota Yogyakarta (kota penyangga), gangguan kejiwaan pun menghantui sebagian masyarakat di Kecamatan Kasihan.

Berdasarkan hasil riset, kasus gangguan jiwa ringan seperti stres hingga yang berat semisal skizofrenia dapat ditemukan di Kasihan. "Pertama, karena style atau pola hidupnya orang kota tapi dompetnya orang desa. Yang kedua, hampir semua wanita di sini bekerja sehingga stresnya tinggi," terang Kepala Bagian Promosi Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, H Guppianto Susilo, SE, MM saat ditemui detikHealth, seperti ditulis pada Sabtu (23/5/2015).

Selain itu, makin banyaknya kasus gangguan jiwa di wilayah ini diyakini merupakan sebagai imbas dari Gempa Yogya yang berlangsung beberapa tahun lalu.

Puskesmas Kasihan II di Ngestiharjo Bantul pun turun tangan dengan memperkenalkan wilayah kerjanya sebagai Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ). Selain didata dan diberi pengobatan, tiap pasien gangguan jiwa yang berhasil 'terjaring' oleh puskesmas diberdayakan agar bisa mandiri kembali.

Pemberdayaan ini terwadahi dalam program Gelimas Jiwo (Gerakan Peduli Masyarakat Sehat Jiwa) yang sudah berjalan sejak tahun 2011.

"Mereka yang berobat rutin ke puskesmas itu kan keadaannya sudah membaik, jadi kemudian mereka diajari untuk bisa terampil bekerja sekaligus sebagai bagian dari terapi. Tapi tidak hanya untuk penderitanya, tapi juga keluarga atau caregiver-nya," tandas salah satu kader Gelimas Jiwo, Suniyati kepada detikHealth.

Bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, puskesmas memberikan pelatihan usaha dan keterampilan kerja kepada para survivor dan keluarga maupun caregiver-nya. Salah satunya dalam bentuk pembuatan angkringan dan kerajinan tangan seperti pensil hias, gantungan kunci dan tas dari bahan bekas.

"Pesertanya mencapai ratusan, tapi yang aktif (di Gelimas Jiwo) sekitar 30-an. Mengumpulkan mereka kan juga nggak mudah," tandas Suniyati.

Jangankan untuk pemberian keterampilan, untuk mengajak pasien gangguan jiwa agar bisa kembali aktif di tengah masyarakat saja, Suniyati mengaku kewalahan. "Ditolak juga sering, Mbak. Kadang kunjungan ke rumah nggak dibukain pintu, pasien menolak, yang belum mau keluar juga banyak," ungkapnya.

Baca juga: Stigma Negatif Kerap Halangi Pasien Gangguan Jiwa Telat Terima Terapi

Namun bagi Suniyati, pemberian keterampilan kerja kepada para survivor semacam ini dirasa cukup membantu kondisi ekonomi keluarga dengan pasien gangguan jiwa. Hal serupa telah dilakukan RSJ Soeharto Heerdjan di Grogol Jakarta. Para pasien atau mantan pasiennya diberi pekerjaan di sekitar lingkungan rumah sakit, semisal dengan menjadi cleaning service maupun petugas keamanan.

"Harapannya pelan-pelan masyarakat akan mulai menerima dan tak lagi enggan mempekerjakan mereka," ujar dirut RSJ Soeharto Heerdjan, dr Aris Tambing, MARS beberapa waktu lalu.

Baca juga: Bantu Pasien, RSJ Grogol Pekerjakan Mantan Pengidap Gangguan Jiwa


(Rahma Lilahi Sativa/AN Uyung Pramudiarja)

Berita Terkait