Secara global, survei yang melibatkan 100.000 responden di 40 negara tersebut menyebut 40 persen responden puas dengan kesehatan dan penampilannya saat ini. Responden yang merasa puas, paling banyak berasal dari Afrika dan beberapa negara berkembang di Asia.
Di negara-negara maju, tingkat kepuasannya justru rendah. Sebagai contoh, hanya 1 persen responden di Jepang dan Korea Selatan yang mengaku puas dengan wellness mereka. Sementara di India, 90 persen responden merasa puas dan bahkan di Afrika selatan 38 persen sangat puas.
"Saya juga nggak tahu apakah benar-benar sehat atau terlalu 'pede' (percaya diri)," kata Hardyana Syintawati, Vice President Marketing and Communications PT Ericsson Indonesia, dalam temu media Kamis (28/5/2015).
Baca juga: Penggunaan Aplikasi Kesehatan Picu Kontroversi Soal Data Pribadi
Survei yang sama juga menunjukkan bahwa makin tinggi tingkat kepuasan terhadap wellness di suatu negara, makin tinggi pula minat untuk memanfaatkan teknologi yang berhubungan dengan kesehatan. Termasuk di antaranya untuk menggunakan berbagai perangkat wearable untuk memonitor kesehatan.
Secara global, 70 persen responden tertarik menggunakan wearable device untuk memonitor kesehatan. Khusus di Indonesia, 40 persen responden tertarik menggunakan alat-alat tersebut. Dibanding negara lain di Asia dan Australia, ketertarikan responden dari Indonesia diklaim paling tinggi.
Salah satu aplikasi teknologi yang diminati adalah pengukur dan pengendali stres. Masih berdasarkan survei Ericsson ConsumerLab tersebut, perangkat untuk memantau stres dipercaya bisa memperpanjang usia hingga rata-rata 2 tahun.
Baca juga: Aplikasi Pengendali Stres Dipercaya Bisa Perpanjang Umur 2 Tahun
(AN Uyung Pramudiarja/Nurvita Indarini)











































