Agar Puasa Tetap Sehat, Penyandang Diabetes Harus Persiapan Sejak Sekarang

Agar Puasa Tetap Sehat, Penyandang Diabetes Harus Persiapan Sejak Sekarang

M Reza Sulaiman - detikHealth
Rabu, 03 Jun 2015 19:49 WIB
Agar Puasa Tetap Sehat, Penyandang Diabetes Harus Persiapan Sejak Sekarang
Jakarta - Bulan Ramadan menjadi bulan melaksanakan ibadah puasa bagi umat Islam di seluruh dunia. Bag penyandang diabetes, persiapannya ternyata harus dilakukan sejak jauh-jauh hari.

Prof Dr dr Pradana Soewondo, SpPD-KEMD, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI, mengatakan penyandang diabetes harus mewaspadai bulan puasa. Bukan dilarang, namun persiapan dilakukan untuk menghindari komplikasi yang muncul akibat pola makan dan minum obat yang berubah.

"Persiapan untuk penyandang diabetes seharusnya tiga bulan sebelum puasa. Atau kalau tidak bisa ya mulai dari sekarang. Kenapa? Karena kan jadwal makan serta konsumsi obatnya berubah, dari tiga kali sehari menjadi dua kali. Karena itu harus berkonsultasi dengan dokternya untuk melihat bagaimana perubahan jadwal tersebut berpengaruh terhadap kadar gula darah," tutur Prof Pradana, dalam temu media Change Diabetes Novo Nordisk, di Hotel Double Tree, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2015).

Baca juga: Lakukan Hal Ini Agar Hari Awal Puasa Tak Terasa Berat

Beberapa hal yang harus diatur antara jadwal minum obat, dosis, serta asupan makanan. Prof Pradana mengatakan hal ini harus disiapkan secara khusus untuk menghindari komplikasi yang berisiko menyerang penyandang diabetes.

Hiperglikemia dan hipoglikemia adalah komplikasi paling sering yang dialami penyandang diabetes kala berpuasa. Perbedaan jadwal makan dan minum obat membuat gula darah rentan naik dan turun secara tiba-tiba, yang berbahaya bagi pasien.

Komplikasi lain yang mungkin menyerang adalah dehidrasi, rasa lelah dan pusing. Jika tak ditangani dengan baik, bukan tak mungkin pasien terserang komplikasi yang lebih berat seperti stroke. Bahkan pada beberapa kasus, pasien malah meninggal dunia.

Riset yang dilakukan oleh Novo Nordisk terhadap 400 orang dari 4 negara mengatakan 36 persen pasien‎ diabetes membatalkan puasa karena berbagai sebab. Yang paling besar adalah hipoglikemia dengan persentase 52 persen dan diikuti 36 persen karena hiperglikemia.

72 persen dari seluruh partisipan mengaku mengalami kelelahan, pusing dan dehidrasi. Dan 48 pasien lainnya percaya bahwa berpuasa itu sulit dan penuh tantangan.

Yang menarik, 36 persen pasien mendapat dukungan dari dokter untuk berpuasa, dan 42 persen tidak didukung dan dilarang. Di sisi lain, 57 persen pasien beruasa dengan pengawasan dokter, sementara sisanya tidak melakukan konsultasi.

Baca juga: Ingin Turunkan Bobot dengan Berpuasa? Perhatikan Dulu Hal-hal Berikut

Prof Pradana mengatakan bahwa meskipun beberapa pasien sudah pernah menjalani ibadah puasa dan tidak mengalami komplikasi, bukan berarti lantas bisa mengatur jadwal dan dosis obat seenaknya. Dokter akan sangat mendukung pasien berpuasa jika memang tubuhnya mampu dan mau berkonsultasi terlebih dahulu.

"Apalagi di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbanyak. Tidak akan dokter melarang puasa, kecuali memang kondisi tubuhnya sudah parah. Namun sebaiknya memang konsultasi dulu soal dosis obat dan jadwalnya," pungkasnya.



(rsm/up)

Berita Terkait