Studi yang dilakukan peneliti di Islamabad berusaha mengetahui mekanisme di balik mengapa seorang perokok bisa mengalami resistensi insulin. Untuk studi ini, tim peneliti menggunakan tikus laboratorium yang kemudian dipapari asap rokok dan diamati perkembangan metabolismenya.
"Dari metabolisme tikus percobaan, paparan asap rokok membuat metabolisme tikus terganggu hingga mereka mengalami resistensi insulin dan kemudian mengalami peningkatan berat badan," tulis peneliti dalam laporannya dan dikutip dari AFP, Senin (9/6/2015).
Baca juga: Terpapar Residu Asap Rokok Ayahnya, Bayi Ini Meninggal Kena Pneumonia
Dari hasil studi ini ditemukan bahwa asap rokok memicu lipid yang disebit ceramide untuk mengubah mitokondria di dalam sel. Akibatnya, terjadi gangguan fungsi sel normal sekaligus menghambat kemampuan sel untuk merespons insulin. Dikatakan para peneliti, hal ini menunjukkan bahwa merokok dengan sengaja dapat mengubah sensitivitas sistemik tubuh terhadap insulin.
Ketika seseorang mengalami resistensi insulin, tubuh otomatis akan membutuhkan lebih banyak insulin. Setiap tambahan kebutuhan insulin pun akan membuat produksi lemak dalam tubuh meningkat. Terkait studi ini, peneliti mengatakan blocking pada ceramide bisa menjadi kunci untuk menghambat efek dari paparan asap rokok.
"Kami menemukan tikus yang diberi myriocin atau dikenal juga dengan blocker ceramide tidak mengalami penambahan berat badan atau masalah metabolik meskipun mereka terpapar asap rokok. Namun, patut diingat saat dipapari asap rokok, tikus percobaan itu juga diberi diet tinggi gula hingga gangguan metabolik yang terjadi tidak dapat diperbaiki," kata para peneliti.
Baca juga: Perokok Pasif Lebih Cenderung Mati Karena Jantung dan Kanker Paru
(rdn/ajg)











































