Penelitian yang dilakukan oleh James M Trauer, pakar kesehatan tidur dari Melbourne Sleep Disorders Centre, mengatakan bahwa cognitive behavioral therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif sangat efektif. Sayangnya, terapi ini belum dilirik sebagai cara pengobatan insomnia yang populer.
Baca juga: Studi: Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Obesitas Hingga 50 Persen
"Kami sangat terkejut karena informasi soal efektivitas pengobatan ini sangat minim. Karena itu kami mencoba membuktikan bahwa terapi ini baik bagi pasien dan bisa dilakukan siapa saja," tutur Trauer, dikutip dari Reuters, Selasa (9/6/2015).
Trauer meneliti 20 studi yang menganalisis kemampuan CBT untuk mengatasi insomnia. Dari 20 studi tersebut, 15 persen partisipannya mengalami insomnia kronis dengan gejala kemampuan berpikir yang menurun, mood yang berubah dan daya tangkap berkurang.
Dari 20 studi tersebut, metode penyembuhan insomnia dibagi menjadi tiga kelompok besar. Kelompok yang mendapat terapi CBT, kelompok yang menggunakan obat-obatan, dan kelompok kontrol.
Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang mengikuti terapi tidur lebih cepat 19 menit dari biasanya, tidur 26 menit lebih lama, dan menghabiskan lebih sedikit waktu ketika terbangun di tengah malam. Berdasarkan hasil ini, Trauer mengatakan CBT lebih baik karena mendeteksi penyebab insomnia, bukan menghilangkannya untuk sementara seperti yang terjadi jika menggunakan obat-obatan.
"Obat-obatan sering dikaitkan dengan efek samping. Selain itu, mereka juga tidak pernah secara pasti menyembuhkan masalah penyebab orang mengalami insomnia. Sementara dari sisi psikologis, kami berusaha melihat apa masalahnya, memecahkannya dan membuat orang akhirnya bisa tidur nyenyak," ungkap Trauter lagi.
Baca juga: Sulit Tidur di Malam Hari? Bisa Jadi karena Kurang Olahraga
(rsm/vit)











































