"Baru satu orang saja yang positif, segera lapor supaya bisa difogging secepatnya itu daerah tempat tinggalnya," ucap dr I Nyoman Kandun, MPH selaku Program Director Field Epidemiology Training Program (FETP) Indonesia di Penang Bistro, Jl Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (11/6/2015).
"Itulah yang disebut vocal fogging, jadi knock down atau membunuh nyamuk dewasa yang sudah menggigit orang yang terinfeksi agar tidak menginfeksi orang lainnya. Tapi kan pada kenyatannya untuk mendapatkan fogging saja butuh proses administrasi dan biasanya lama. Harusnya ada satu saja yang positif DBD segera dilaporkan dan disemprot saat itu," papar dr Nyoman.
Baca juga: Agar Bebas Demam Berdarah, Bantul Tonjolkan Peran 'Bapak Asuh'
Menurut dr Nyoman, ketika satu nyamuk terinfeksi virus tersebut kemudian nyamuk menggigit orang lainnya, maka bisa menular. Ketika fogging terlambat dilakukan, kemungkinan akan lebih banyak orang yang terinfeksi. Selain, itu tak bisa dikesampingkan pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yaitu menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang-barang bekas. Nah, fogging dikatakan dr Nyoman termasuk dalam Integrated Vector Management yang terdiri dari biological vector control, chemical vector control, dan physical vector control.
Biological vector misalnya dengan memanfaatkan ikan kepala timah atau cicak sebagai pemakan jentik. Nah, untuk chemical control contohnya yakni fogging dan penggunaan bubuk abate. Sedangkan, membersihkan lingkungan dengan melakukan PSN termasuk dalam physical control.
"Patut diingat nyamuk Aedes Aegypti yang menggigit itu yang betina karena untuk fertilisasi. Saat dijantani, sel telur perlu diberi darah agar bisa menetas. Nyamuk ini paling senang menggigit jam 9-10 pagi kemudian lanjut dari siang sampai sore," papar dr Nyoman.
Baca juga: Kemarau Panjang Disertai Hujan Ringan, Bahaya Demam Berdarah Mengintai
(rdn/vit)











































