Temuan penelitian tersebut cukup mengejutkan Lori Altmann yang merupakan salah satu peneliti. "Setiap melakukan penelitian mengenai dual-task, saya selalu menemukan bahwa orang-orang yang mengerjakan dua hal sekaligus mendapatkan hasil yang buruk," ucap Lori seperti dikutip dari Newser pada Kamis (11/6/2015).
Peneliti menguji 20 orang sehat dengan usia rata-rata 73 tahun dan 28 orang dengan parkinson yang tujuh tahun lebih muda dari usia rata-rata. Partisipan tersebut menyelesaikan belasan tugas kognitif sambil duduk dan mengayuh sepeda statis di sebuah ruangan.
Baca juga: Cantik dan Seksi, Pelatih Yoga Ini Ternyata Juga Seorang Dosen
Partisipan sehat yang mengayuh sambil menyelesaikan tugas sederhana memiliki kecepatan mengayuh lebih cepat 25 persen dari kecepatan rata-rata. Hal-hal sederhana yang dilakukan antara lain mengatakan ‘pa’ sebanyak yang mereka bisa dalam waktu 10 detik, atau mengucapkan kata ‘pergi’ ketika bintang biru muncul di layar proyeksi. Ketika tugas menjadi lebih sulit, partisipan menjadi lebih lambat, tetapi pada orang dewasa yang sehat, kecepatannya tetap pada rata-rata.
Peneliti menyatakan bahwa tugas kognitif mampu melepaskan neurotransmitter dopamine dan noradrenaline yang membuat lobus depan otak lebih cepat dan efisien. Hal tersebut menyebabkan performa motorik dan kognitif meningkat.
Orang-orang dengan penyakit parkinson mengayuh lebih lambat daripada orang dewasa sehat. Akan tetapi kecepatan tersebut jauh lebih cepat daripada kecepatan dasar mereka. Peneliti percaya itu dikarenakan defisit pada neurotransmitter mereka.
Penelitian yang dilakukan oleh University of Florida tersebut juga telah dipublikasikan di PLOS ONE pada bulan lalu.
Baca juga: Battle Ropes, Alternatif Bakar Kalori Menggunakan Tali
(vit/vit)











































