"70 puluh persen ibu di Indonesia kekurangan energi kronis. Sementara 37,2 persen, hampir 40 persennya lahir stunting. Kalau kita punya anak 5, maka 2 di antaranya akan 'hang' otaknya, jadinya nggak mampu menyerap dan mencerna ilmu dengan baik," tutur Menkes Nila di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, seperti ditulis pada Sabtu (13/6/2015).
Baca juga: Blusukan, Menkes Nila Puji Kelengkapan SDM Puskesmas Tigapanah
Ia menegaskan lagi bahwa kurang gizi yang dialami ibu hamil akan berefek anak lahir pendek (stunting). Stunting akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, salah satunya adalah membuat pertumbuhan otak anak menjadi tidak optimal.
Secara otomatis, anak akan sulit mencerna dan menerima ilmu di sekolah, yang membuat pendidikannya juga tidak maksimal. Dengan pendidikan yang kurang baik, kesejahteraan anak di masa depan bisa tidak tercukupi.
"Kesehatan itu adanya di hulu. Kalau kita sehat, tentunya kita akan bisa menempuh pendidikan dengan baik. Yang akhirnya akan membuat kita sejahtera, kaya dan rezeki berlimpah," ungkapnya lagi.
Di kesempatan yang sama, Menkes juga menyinggung soal target Millenium Development Goals (MDGs) Indonesia, terutama terkait angka kematian ibu yang gagal tercapai. Lagi-lagi, Menkes menekankan pentingnya pemenuhan gizi yang cukup demi mengejar target MDGs.
"Kalau gizi ibunya cukup, maka kemungkinan ibu meninggal ketika melahirkan akan turun. Dengan gizi yang cukup ibu juga akan menjadi lebih berpengetahuan dan mampu mendidik serta menjaga kesehatan anak-anaknya. Tidak hanya melahirkan dan tidak bertanggung jawab untuk kualitas masa depan anak," pungkasnya.
Baca juga: Tak Melulu Soal Ekonomi, 3 Hal Ini Bisa Picu Gizi Buruk pada Anak
(mrs/ajg)











































