Galakkan Gerakan Jumantik, Kasus DB Jakarta Turun 50 Persen

Galakkan Gerakan Jumantik, Kasus DB Jakarta Turun 50 Persen

Firdaus Anwar - detikHealth
Senin, 15 Jun 2015 15:38 WIB
Galakkan Gerakan Jumantik, Kasus DB Jakarta Turun 50 Persen
il
Jakarta - Demam berdarah (DB) adalah penyakit endemik di Indonesia dan tiap tahun menurut World Health Organization (WHO) bisa ada sekitar 94 ribu kasus dengan jumlah korban berkisar mulai dari 472 sampai 144 ribu. Karena tak ada obatnya, tindakan pencegahan adalah cara paling efektif untuk menekan angka penyakit.

Terkait hal tersebut Kementerian Kesehatan didukung oleh Dinas Kesehatan provinsi kini tengah menggalakkan program juru pemantau jentik (jumantik). Di Jakarta program ini dikatakan oleh Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan, Dinas Kesehatan, dr Widyastuti, MKM, menjadi salah satu alasan angka kasus bisa turun hingga 50 persen.

"Tahun ini kita ada 3.425 kasus, tahun lalu waktu yang sama sekitar 6.000 kasus. Bisa dibilang ada penurunan sekitar 50 persen," ujar dr Widyastuti ketika ditemui di Balaikota DKI, Jakarta, Senin (15/6/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Hati-hati! Di Perkantoran, Jentik Nyamuk Banyak Ditemukan di Dispenser

Satu Rumah Satu Jumantik adalah nama dari program sosialisasi tersebut. Rencananya tiap rumah akan memiliki satu orang yang bertugas untuk mengawasi jentik nyamuk sehingga mulai dari lingkungan terkecil sudah bisa ada tindakannya.

"Jadi sudah enggak bergantung lagi sama kader. Tiap rumah nanti ada orang yang bertanggung jawab untuk memastikan lingkungannya bebas nyamuk," kata dr Widyastuti.

Siapa saja dikatakan dr Widyastuti bisa menjadi jumantik dengan diberikan bekal pelatihan yang cukup. Anak-anak bahkan bisa turut serta karena memang mereka cukup punya pengaruh untuk lingkungannya.

"Kita ada namanya jumantik cilik. Itu sengaja karena memang anak-anak itu lebih aktif ya. Kita berharap merekaini nantinya akan menyebarkan ilmu mereka ke lingkungan sekitar," ujar dr Widyastuti.

Selain jumantik penurunan hingga lima puluh persen ini juga didorong karena kontribusi faktor lain. dr Widyastuti mengatakan curah hujan dan genangan air bisa jadi di tahun 2015 lebih sedikit dibanding tahun lalu sehingga nyamuk penyebar penyakit juga lebih sedikit. (fds/vit)

Berita Terkait