Transplantasi dengan Jantung Mati 'Kreasi' Ilmuwan Australia

Young and Healthy

Transplantasi dengan Jantung Mati 'Kreasi' Ilmuwan Australia

Rahma Lilahi Sativa - detikHealth
Sabtu, 20 Jun 2015 10:10 WIB
Transplantasi dengan Jantung Mati Kreasi Ilmuwan Australia
Sydney - Saat seseorang divonis mengalami kegagalan organ, satu-satunya cara untuk membuatnya tetap bertahan hidup adalah dengan transplantasi. Namun di berbagai belahan dunia, kurangnya donor organ masih menjadi masalah pelik yang belum terpecahkan.

Harapan muncul ketika beberapa waktu lalu, tepatnya pada bulan Oktober 2014, tim dokter dari St Vincent Hospital, Sydney berhasil mencangkokkan jantung 'mati' ke tubuh tiga orang pasien. Apa istimewanya?

Untuk proses transplantasi, jantung yang digunakan adalah jantung yang masih berdetak namun pemiliknya sudah mengalami mati otak. Jantung ini kemudian disimpan dalam suhu rendah selama empat jam, baru setelah itu dicangkokkan ke tubuh resipien.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun dalam prosedur baru ini, tim dokter dari St Vincent Hospital menggunakan jantung yang sudah tidak berdetak lagi selama 20 menit. Padahal jantung merupakan satu-satunya organ yang tidak bisa dimanfaatkan bila sudah tak berdetak.

Terobosannya terletak pada cairan yang diciptakan bersama oleh St Vincent Hospital dan Victor Chang Cardiac Research Institute selama 20 tahun. Direktur unit transplantasi, Prof Peter MacDonald menjelaskan bahwa cairan khusus ini berfungsi untuk meregenerasi sel-sel otot jantung, sekaligus mengurangi tingkat kerusakan organ.

Jadi sebelum transplantasi dilakukan, jantung yang telah berhenti berdetak selama 20 menit tadi diletakkan dalam sebuah kotak portabel yang disebut dengan 'heart in a box' selama empat jam. Di kotak itu, si jantung 'direndam' di dalam cairan khusus bikinan rumah sakit dan Victor Chang Cardiac Research Instituted.

Setelah itu, kotak tersebut dihubungkan ke sebuah sirkuit agar jantung di dalamnya tetap berdetak dan hangat, berbeda dengan teknik reservasi organ yang selama ini memanfaatkan mesin pendingin atau ruangan bersuhu rendah.

Baca juga: Transplantasi Jantung yang Diawetkan, Bisakah Sampai ke Indonesia?

Pada hari H, organ-organ tersebut berhasil dicangkokkan oleh Dr Kumud Dhital, ahli bedah jantung dari St Vincent's Hospital kepada dua pasien bernama Michelle Gribilas (57) dan Jan Damen (43).

"Keberadaan cairan tersebut sukses benar-benar memungkinkan kita untuk tak hanya mengawetkan jantung, tapi juga meresusitasi dan memfungsikannya kembali. Ini luar biasa," katanya seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (20/6/2015).

Ini artinya tim dokter dari St Vincent's Hospital bisa menyelamatkan lebih banyak pasien transplantasi jantung, bahkan mencapai 30 persen, dengan menambah stok organ donor.

"Yang bisa mendonorkan darah juga tidak terbatas. Kita bisa mengambil dari orang yang tidak mengalami kerusakan fungsi otak namun meninggal saat dirawat, atau orang yang telah mengalami mati otak tapi kondisi jantungnya dianggap tidak sesuai untuk transplantasi," lanjut dokter keturunan Nepal tersebut.
 
Sebagai pasien pertama yang mendapatkan transplantasi jantung 'mati' pertama di dunia, Michelle yang semula mengalami gagal jantung kongenital mengaku operasi itu telah mengubah hidupnya. "Sebelum ini, kondisi saya sangat buruk, sekarang saya sama sekali berbeda. Bahkan saya merasa seperti berumur 40 tahun, dan saya sangat beruntung," tuturnya.

Sedangkan pasien kedua, Jan mengaku sehari setelah operasi, ia langsung merasa '100 persen lebih baik dari sebelumnya'. "Saya tak sabar ingin segera kembali beraktivitas dan berkumpul bersama keluarga lagi," tekadnya.
 
Baca juga: Tampak Canggih, Transplantasi Jantung di Australia Juga Berpeluang Gagal

(lll/up)

Berita Terkait