Suami mantan Menkes Nafsiah Mboi, dr Aloysius Benedictus Mboi, M.P.H tutup usia. Selama hidupnya, banyak hal-hal yang ditorehkan pria yang akrab dipanggil dr Ben ini. Hidupnya penuh warna. Setelah mengantungi gelar dokter, dia terjun ke medan perang. Suatu ketika dia pun dipercaya menjadi Gubernur NTT.
Pria kelahiran Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, 22 Mei 1935 ini dikabarkan meninggal karena komplikasi penyakit pada Senin (22/3/2015) malam. dr Ben meninggalkan satu istri dan tiga orang anak. Kisah dr Ben semasa hidup pernah dituangkan dalam buku biografi Ben Mboi - Dokter, Memoar Prajurit, Pamong Praja.
Dalam biografi tersebut, dr Ben mengisahkan bagaimana awalnya terjun ke medan perang di Papua Barat. Bagi seorang pria muda yang baru saja menjadi dokter, hal itu tentu bukan perkara mudah. Kala itu, dengan berat hati dr Ben pun harus terpisah lokasi yang cukup jauh dari Nafsiah yang kala itu masih menjadi kekasihnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Suami Mantan Menkes, dr Ben Mboi Meninggal Dunia
Setelah operasi Trikora selesai, dr Ben kembali ke Jakarta. Kembali ke kota setelah sekian lama hidup di hutan diakui dr Ben membuatnya menjadi trigger-happy, cepat tersinggung kalau ada orang yang sok-sokan. Saat itu dr Ben mendapat Bintang Sakti dan pangkatnya yang semula Lettu menjadi Kapten.
Pada 1978-1988, dr Ben menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), menggantikan El Tari. Di masa itu, tepatnya di tahun 1986, dr Ben bersama sang istri mendapat penghargaan bergengsi Ramon Magsaysay Award karena dinilai mampu membawa kemajuan pedesaan dan memotivasi hampir tiga juta warga di NTT.
Kemudian usai Sidang Umum MPR pada Maret 1993 dan pembentukan kabinet, dr Ben menjadi salah satu orang yang diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia periode 1993-1998.
Setelah berhenti dan pensiun dari keanggotaan DPA pada bulan Maret 1998, dr Ben tinggal di rumah saja. Saat itu dia kerap kali merasa aneh dengan hidup yang tidak perlu lagi tergesa-gesa di pagi hari untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab kepada negara. dr Ben sempat merasa dirinya tidak lagi dibutuhkan oleh siapapun, terlebih oleh negara.
Warna lain dalam hidup dr Ben muncul terkait dengan rumah di Kompleks AD Gatot Subroto yang telah ditempatinya sejak 30 tahun terakhir. Menhankam kala itu menjanjikan penghuninya bisa sewa beli rumah-rumah tersebut. Sedangkan Benny Moerdani yang saat itu menjadi Pangab memberi jaminan bahwa purnawirawan dan warakawuri diperbolehkan tinggal sampai mati, sedangkan anak-anak harus cari rumah sendiri.
Namun kebijakan berubah di tahun 2004, di mana para penghuni rumah di kompleks tersebut harus keluar lantaran akan dipakai oleh perwira-perwira lain. Menurut dr Ben, bekas kompleks itu kenyataannya tidak dipakai untuk fungsi-fungsi kemiliteran, melainkan untuk parking lot. Dia menyayangkan cara mengeluarkan penghuni rumah yang dinilainya tidak manusiawi
"Membiarkan air tergenang sampai ke dalam rumah, membiarkan sampah-sampah bertumpuk sampai 2 bulan karena truk sampah DKI tidak boleh masuk, membuldozer jalanan di depan rumah. Sampai-sampai istri saya harus berdiri di depan buldozer untuk menahan siksaan tanpa kemanusiaan oleh almameter kami sendiri," keluh dr Ben di bukunya.
Namun demikian, jasa-jasa dr Ben tetap dikenang dan dihargai. Hal itu antara lain terlihat melalui penghargaan untuk kategori Life Time Achievement (pengabdian seumur hidup) dari Forum Academia Award NTT (FAN) tahun 2012.
Kini, dr Ben sudah benar-benar beristirahat dalam tidur panjangnya. Negeri ini kehilangan salah satu putra terbaiknya. Sebab di sepanjang hidupnya, dr Ben meninggalkan banyak hal positif bagi negara dan masyarakat. Selamat jalan wahai Sang Dokter Pejuang! (vit/up)











































