Pada MRA, pemeriksaan yang dilakukan bersifat non invasif dan non radiatif. Kemudian, bisa dilakukan dengan atau tambahan kontras. Saat melakukan MRA, pasien akan dimasukkan dalam lorong seperti saat pemeriksaan MRI, demikian diungkapkan dr Andi Darwis, SpRad dari Rumah Sakit Pondok Indah-Puri Indah.
"Kegunaan umum MRA yaitu memeriksa pembuluh darah tubuh pada otak atau kepala, leher, jantung atau dada, hati dan ginjal. Bisa juga mengidentifikasi kelainan lain seperti adanya plak, penyempitan pembuluh darah, dan aneurysma," terang dr Andi di sela-sela 'Media Gathering RSPI: Minimalkan Risiko Stroke dan Penerapan Teknologi MRA' di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, dan ditulis pada Kamis (25/6/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Normalnya, dikatakan dr Andi, pembuluh darah seperti batang pohon namun saat ada bagian seperti buah, maka itulah aneurysma-nya. Jika tekanan darah naik, pembuluh darah bisa pecah dan mengakibatkan stroke. Meskipun, dikatakan dr Andi, pecahnya pembuluh darah bisa juga disebabkan faktor lain seperti hipertensi.
"MRA juga bisa melihat pembuluh darah yang robek, adanya penyempitan pembuluh darah. Kalau sering kesemutan, kita juga bisa lihat apakah pembuluh darah yang menyuplai daerah itu ada kelainan atau nggak. Nah, keunggulan MRA dibanding angiography lain yaitu tidak ada efek sinar X karena alah satu efek sinar X adalah karsinogenik," tutur dr Andi.
Hadir dalam kesempatan yang sama, dr Rubiana Nurhayati, SpS mengibaratkan stroke seperti tsunami. Jika serangan sudah lewat, biasanya terjadi dalam waktu 1-7 hari, maka akan meninggalkan kecacatan. Untuk itu, penanganannya bisa dengan rehabilitasi medik seperti terapi bicara dan okupasi terapi. Untuk pulih total atau tidak dikatakan dr Rubi tergantung luas kerusakan yang terjadi.
"Untuk mencegah stroke kambuh, harus diatasi dan dikelola faktor risikonya. Faktor risiko stroke terdiri dari dua, pertama tidak dapat berubah yakni usia dan riwayat keluarga. Lalu yang bisa diubah seperti hipertensi, penyakit jantung, hiperkolesterol, obesitas, merokok, kurang olahraga, dan konsumsi alkohol. Kalau ini dihindari stroke bisa kita cegah," kata dr Rubi. (rdn/vit)











































