Pemeriksaan MRA Bisa Bantu Minimalisir Risiko Terkena Stroke

Pemeriksaan MRA Bisa Bantu Minimalisir Risiko Terkena Stroke

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 25 Jun 2015 08:29 WIB
Pemeriksaan MRA Bisa Bantu Minimalisir Risiko Terkena Stroke
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Stroke bisa terjadi karena adanya sumbatan pada pembuluh darah ataupun pecahnya pembuluh darah. Nah, untuk upaya pencegahan stroke, kondisi pembuluh darah bisa dilakukan salah satunya melalui Magnetic Resonance Angiography (MRA).

Pada MRA, pemeriksaan yang dilakukan bersifat non invasif dan non radiatif. Kemudian, bisa dilakukan dengan atau tambahan kontras. Saat melakukan MRA, pasien akan dimasukkan dalam lorong seperti saat pemeriksaan MRI,  demikian diungkapkan dr Andi Darwis, SpRad dari Rumah Sakit Pondok Indah-Puri Indah.

"Kegunaan umum MRA yaitu memeriksa pembuluh darah tubuh pada otak atau kepala, leher, jantung atau dada, hati dan ginjal. Bisa juga mengidentifikasi kelainan lain seperti adanya plak, penyempitan pembuluh darah, dan aneurysma," terang dr Andi di sela-sela 'Media Gathering RSPI: Minimalkan Risiko Stroke dan Penerapan Teknologi MRA' di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, dan ditulis pada Kamis (25/6/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

MRA, lanjut dr Andi, lebih banyak digunakan pada stroke perdarahan yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah. Dengan MRA, bisa diketahui kelainan pembuluh darah otak seperti aneurysma atau artery vena malformasi (AVM). Pada aneurysma, akan muncul bentuk seperti lentingan pada balon.

Normalnya, dikatakan dr Andi, pembuluh darah seperti batang pohon namun saat ada bagian seperti buah, maka itulah aneurysma-nya. Jika tekanan darah naik, pembuluh darah bisa pecah dan mengakibatkan stroke. Meskipun, dikatakan dr Andi, pecahnya pembuluh darah bisa juga disebabkan faktor lain seperti hipertensi.

"MRA juga bisa melihat pembuluh darah yang robek, adanya penyempitan pembuluh darah. Kalau sering kesemutan, kita juga bisa lihat apakah pembuluh darah yang menyuplai daerah itu ada kelainan atau nggak. Nah, keunggulan MRA dibanding angiography lain yaitu tidak ada efek sinar X karena alah satu efek sinar X adalah karsinogenik," tutur dr Andi.

Hadir dalam kesempatan yang sama, dr Rubiana Nurhayati, SpS mengibaratkan stroke seperti tsunami. Jika serangan sudah lewat, biasanya terjadi dalam waktu 1-7 hari, maka akan meninggalkan kecacatan. Untuk itu, penanganannya bisa dengan rehabilitasi medik seperti terapi bicara dan okupasi terapi. Untuk pulih total atau tidak dikatakan dr Rubi tergantung luas kerusakan yang terjadi.

"Untuk mencegah stroke kambuh, harus diatasi dan dikelola faktor risikonya. Faktor risiko stroke terdiri dari dua, pertama tidak dapat berubah yakni usia dan riwayat keluarga. Lalu yang bisa diubah seperti hipertensi, penyakit jantung, hiperkolesterol, obesitas, merokok, kurang olahraga, dan konsumsi alkohol. Kalau ini dihindari stroke bisa kita cegah," kata dr Rubi. (rdn/vit)

Berita Terkait