5 Fakta Seputar Kentut Ini Mungkin Belum Pernah Anda Dengar

5 Fakta Seputar Kentut Ini Mungkin Belum Pernah Anda Dengar

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Kamis, 25 Jun 2015 11:03 WIB
5 Fakta Seputar Kentut Ini Mungkin Belum Pernah Anda Dengar
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Kentut atau buang angin merupakan proses tubuh untuk mengeluarkan gas berlebih yang ada di lambung. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari gangguan pencernaan hingga makanan yang dikonsumsi.

Namun tahukah Anda kalau terlalu sering olahraga di luar ruangan juga dapat menyebabkan kentut? Atau kentut kelak dapat memberi tahu soal penyakit pencernaan apa yang sedang Anda alami?

Dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, Kamis (25/6/2015), berikut beberapa fakta seputar kentut yang mungkin belum pernah Anda dengar.

1. Olahraga bikin kentut

Sebuah penelitian di AS menunjukkan 71 persen atlet lari mengalami gangguan pencernaan khususnya perut kembung dan sering kentut. Diduga penyebabnya adalah olahraga secara berlebihan karena tubuh dipaksa bernapas lebih banyak.

"Sebenarnya bukan aktivitas berlebihannya, tetapi lokasi di mana ia olahraga. Ruang terbuka tentu memiliki banyak udara, sehingga orang yang banyak aktivitas di area ini akan banyak pula udaranya yang masuk ke dalam tubuhnya, sehingga jadi sering kentut," kata dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia.

2. Kentut dari vagina

dr Andri Wanananda, MS, pengasuh konsultasi kesehatan seksual detikHealth, mengatakan bahwa beberapa wanita mendengar suara seperti seperti kentut keluar dari vagina. Hal ini menurutnya merupakan proses normal.

Kentut di vagina terjadi karena adanya reaksi kimiawi udara atau oksigen di dalam vagina yang bertemu dengan cairan lubrikasi. Menurutnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau ditakutkan ketika mendengar suara kentut dari vagina.

"Jangan lupa bahwa kita juga manusia. Kita bisa kentut kapan saja dan di mana saja, jadi harusnya pasangan bisa maklum dan wanita tetap percaya diri. Buat saja sebagai bahan lelucon, karena saat seks, lelucon pun dibutuhkan," ungkapnya.

3. Kentut dapat deteksi penyakit

Sekelompok ilmuwan yang dipimpin Professor Kourosh Kalantar-zadeh dari Royal Melbourne Institute of Technology menciptakan metode unik. Tujuannya untuk mengetahui risiko penyakit seseorang hanya dari bau kentutnya saja.

Caranya adalah fermentasi feses atau kotoran manusia. Sebelum difermentasi, sampel feses pasien diambil lantas dimasukkan ke dalam tabung yang telah disulap sedemikian rupa agar mirip dengan kondisi di dalam usus besar. Oleh Prof Kourosh, tabung-tabung ini ia sebut dengan 'fecal inocula'.

Tabung ini juga mengandung sensor yang dapat mendeteksi molekul-molekul gas atau bau dari feses itu sendiri. Ini untuk memastikan apakah bau yang dihasilkan sampel feses tadi normal atau tidak.

4. Terlalu cemas

Saat cemas, galau, atau grogi, tubuh seseorang cenderung memberikan respons alami berupa meningkatnya gerak peristaltik pada usus. Peningkatan gerak peristaltik membuat produksi gas yang dihasilkan meninggkat.

"Akibat adanya peningkatan ini, maka produksi gas yang dihasilkan juga mengalami peningkatan," papar dr Ari lagi.

5. Obat dan permen bisa picu kentut

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Beberapa jenis obat termasuk obat batuk sering mengandung pemanis buatan yang disebut sorbitol atau xilytol. Gula yang sulit diserap tersebut sukar dicerna oleh tubuh dan malah menjadi makanan bakteri. Salah satu hasil pencernaan oleh bakteri adalah gas.

Penggemar permen atau hard candy dan permen karet juga sering kentut karena sejumlah merek permen mengandung sorbitol, yaitu semacam gula alami yang ada dalam buah-buahan. Jenis lainnya antara lain malitol dan xylitol. Kendati rendah kalori dan tidak menyebabkan kerusakan gigi, tapi senyawa aditif ini dapat menimbulkan gas dan perut kembung yang bisa memicu kentut.
Halaman 2 dari 6
Sebuah penelitian di AS menunjukkan 71 persen atlet lari mengalami gangguan pencernaan khususnya perut kembung dan sering kentut. Diduga penyebabnya adalah olahraga secara berlebihan karena tubuh dipaksa bernapas lebih banyak.

"Sebenarnya bukan aktivitas berlebihannya, tetapi lokasi di mana ia olahraga. Ruang terbuka tentu memiliki banyak udara, sehingga orang yang banyak aktivitas di area ini akan banyak pula udaranya yang masuk ke dalam tubuhnya, sehingga jadi sering kentut," kata dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia.

dr Andri Wanananda, MS, pengasuh konsultasi kesehatan seksual detikHealth, mengatakan bahwa beberapa wanita mendengar suara seperti seperti kentut keluar dari vagina. Hal ini menurutnya merupakan proses normal.

Kentut di vagina terjadi karena adanya reaksi kimiawi udara atau oksigen di dalam vagina yang bertemu dengan cairan lubrikasi. Menurutnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau ditakutkan ketika mendengar suara kentut dari vagina.

"Jangan lupa bahwa kita juga manusia. Kita bisa kentut kapan saja dan di mana saja, jadi harusnya pasangan bisa maklum dan wanita tetap percaya diri. Buat saja sebagai bahan lelucon, karena saat seks, lelucon pun dibutuhkan," ungkapnya.

Sekelompok ilmuwan yang dipimpin Professor Kourosh Kalantar-zadeh dari Royal Melbourne Institute of Technology menciptakan metode unik. Tujuannya untuk mengetahui risiko penyakit seseorang hanya dari bau kentutnya saja.

Caranya adalah fermentasi feses atau kotoran manusia. Sebelum difermentasi, sampel feses pasien diambil lantas dimasukkan ke dalam tabung yang telah disulap sedemikian rupa agar mirip dengan kondisi di dalam usus besar. Oleh Prof Kourosh, tabung-tabung ini ia sebut dengan 'fecal inocula'.

Tabung ini juga mengandung sensor yang dapat mendeteksi molekul-molekul gas atau bau dari feses itu sendiri. Ini untuk memastikan apakah bau yang dihasilkan sampel feses tadi normal atau tidak.

Saat cemas, galau, atau grogi, tubuh seseorang cenderung memberikan respons alami berupa meningkatnya gerak peristaltik pada usus. Peningkatan gerak peristaltik membuat produksi gas yang dihasilkan meninggkat.

"Akibat adanya peningkatan ini, maka produksi gas yang dihasilkan juga mengalami peningkatan," papar dr Ari lagi.

Beberapa jenis obat termasuk obat batuk sering mengandung pemanis buatan yang disebut sorbitol atau xilytol. Gula yang sulit diserap tersebut sukar dicerna oleh tubuh dan malah menjadi makanan bakteri. Salah satu hasil pencernaan oleh bakteri adalah gas.

Penggemar permen atau hard candy dan permen karet juga sering kentut karena sejumlah merek permen mengandung sorbitol, yaitu semacam gula alami yang ada dalam buah-buahan. Jenis lainnya antara lain malitol dan xylitol. Kendati rendah kalori dan tidak menyebabkan kerusakan gigi, tapi senyawa aditif ini dapat menimbulkan gas dan perut kembung yang bisa memicu kentut.

(mrs/vit)

Berita Terkait