"Opa itu orangnya tegas. Kalau boleh ya boleh, kalau nggak ya nggak. Tapi sebenarnya hati opa itu lembut, sabar banget kalau sama aku dan cucu-cucu yang lain," kenang Monic, ditemui usai prosesi pemakaman dr Ben (sapaan dr Benedictus-red) di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Kamis (25/6/2015).
Gadis berkacamata ini menceritakan sang opa kerap menyimpan cokelat di kulkas. Nanti, saat cucu-cucunya datang, dr Ben akan memberikan cokelat tersebut. Tak hanya itu, dr Ben juga dengan senang hati diajak bermain guru-guruan oleh Monic.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Kiprah Ben Mboi, Dokter yang Pernah Terjun Perang dan Jadi Gubernur NTT
Tak hanya itu, setiap akan ujian, Monic juga selalu meminta restu pada dr Ben. Menurut Monic, setelah didoakan kakeknya, ia merasa lebih tenang dan percaya diri saat akan menghadapi ujian. Saat tahu cucunya akan mengikuti ujian, sambil menyemangati, dr Ben hanya berkata 'Sudah tenang aja monish, pasti bisa kok ujiannya'.
Berbicara soal sebutan Monish, menurut Monic nama tersebut merupakan panggilan sayang dr Ben pada cucu keduanya itu. "Kata opa sih artinya cantik ya," ujar Monic.
Dalam sambutannya usai prosesi pemakaman, salah satu putra dr Ben, Hade Mboi mengatakan keluarga amat berterima kasih kepada seluruh pihak karena segala rangkaian prosesi pemakaman dikatakan Hade sesuai dengan apa yang dicita-citakan dr Ben yakni bisa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan bersama para pahlawan lainnya.
"Kami juga mengucapkan terima kasih kepada tim dokter yang sudah 17 tahun terakhir membantu papa selama stroke. Sebagai seorang anak, satu hal yang saya lihat yaitu ayah saya adalah seseorang yang tiap detik dalam hidupnya memikirkan negara ini," kata Hade yang kala itu tak bisa menahan tangisnya.
Baca juga: dr Ben Mboi di Mata Menkes Nila: Keras Tapi Baik Hati
(rdn/vit)











































