Jakarta -
Pengobatan herbal atau pengobatan tradisional memang sudah sejak lama dilakukan di Indonesia. Tak sedikit masyarakat yang memilih pengobatan herbal karena diyakini lebih baik, lebih murah dan bebas bahan kimia.
Namun jangan asal memilih pengobatan herbal. Dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, Jumat (26/6/2015), berikut 5 hal yang harus diperhatikan sebelum mencoba pengobatan herbal. Mulai dari bahan herbal yang diminum hingga keparahan kondisi penyakit yang dialami.
1. Sudah terbukti ilmiah
Foto: Ajeng/detikHealth
|
Dr dr Lili Indrawati, MKes dari Departemen Farmakoterapi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia mengatakan Indonesia kaya akan tanaman herbal dengan khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Namun tentunya khasiat tersebut harus dibuktikan terlebih dahulu secara ilmiah.
"Sebagai dokter tentunya kita nggak bisa menganjurkan obat herbal asal bicara saja kan. Makanya harus ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa obat herbal ini bermanfaat, memiliki khasiat dan tidak memiliki efek samping bagi tubuh," tutur dr Lili.
2. Konsultasi ke dokter
Klinik Herbal RS Sardjito Yogyakarta (Foto: Lila/detikHealth)
|
Setelah memastikan obat herbal yang akan dikonsumsi bermanfaat dan terbukti ilmiah, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah berkonsultasi ke dokter. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi, efek samping hingga kontradiksi dengan pengobatan yang sedang Anda jalani.
Tidak usah takut dokter menolak atau bahkan memarahi Anda. Bagikan infromasi soal penelitian yang dilakukan soal obat herbal yang ingin Anda konsumsi. Jika perlu, berikan informasi lengkap di mana dokter dapat membaca jurnal tersebut.
3. Perhatikan kondisi tubuh
Memastikan bahwa obat herbal yang Anda konsumsi aman bagi tubuh sangat penting dilakukan. Jika tidak acuh, bukan tak mungkin kesembuhan akan makin sulit didapat.
Contoh sederhana adalah konsumsi daun sirsak. dr Lili mengatakan daun sirsak selain bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan sel kanker, juga memiliki efek menurunkan kadar gula darah.
"Jadi kalau pasien normal sangat dianjurkan untuk minum minuman manis setelahnya. Kalau tidak bisa-bisa nanti malah hipoglikemia atau kekurangan gula darah, jadinya lemas dan kleyengan," ungkapnya.
4. Maksimalkan manfaat
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
|
Banyak obat herbal yang kini dijual dalam bentuk kapsul dan diklaim berisi ekstrak dari tumbuhan atau makanan tertentu. Terkait hal ini, dr Lili mengatakan obat herbal paling baik dikonsumsi langsung atau tanpa proses olahan.
Proses ekstrasi dikatakannya sulit untuk mengambil atau menyerap 100 persen zat yang ada dari tanaman. Contohnya adalah daun sirsak. Dengan merebus lalu dijadikan teh beberapa zat bermanfaat bisa hilang. Lebih baik daun tersebut dijadikan menu makanan sehingga manfaatnya maksimal.
"Meski begitu lihat juga kandungan dan manfaatnya. Kalau ternyata 1 kapsul sama dengan 100 gelas teh misalnya, ya nggak apa-apa pakai kapsul," tuturnya.
5. Bukan pengobatan utama
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
|
Yang paling penting dan harus diingat adalah pengobatan herbal harus diposisikan sebagai pengobatan sampingan atau pendamping, bukan sebagai pengobatan utama. Jangan sampai penyakit malah makin parah karena meninggalkan pengobatan di dokter dan beralih ke pengobatan herbal.
"Jangan jadikan sebagai pengobatan utama, herbal hanya sampingan. Memang bermanfaat tapi manfaatnya belum sebesar terapi atau pengobatan dokter lainnya. Jadi misalnya pasien kanker kolorektal minum daun sirsak, silahkan, tapi terapi lainnya tetap harus dilakukan," pungkas dr Lili.
Dr dr Lili Indrawati, MKes dari Departemen Farmakoterapi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia mengatakan Indonesia kaya akan tanaman herbal dengan khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Namun tentunya khasiat tersebut harus dibuktikan terlebih dahulu secara ilmiah.
"Sebagai dokter tentunya kita nggak bisa menganjurkan obat herbal asal bicara saja kan. Makanya harus ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa obat herbal ini bermanfaat, memiliki khasiat dan tidak memiliki efek samping bagi tubuh," tutur dr Lili.
Setelah memastikan obat herbal yang akan dikonsumsi bermanfaat dan terbukti ilmiah, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah berkonsultasi ke dokter. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi, efek samping hingga kontradiksi dengan pengobatan yang sedang Anda jalani.
Tidak usah takut dokter menolak atau bahkan memarahi Anda. Bagikan infromasi soal penelitian yang dilakukan soal obat herbal yang ingin Anda konsumsi. Jika perlu, berikan informasi lengkap di mana dokter dapat membaca jurnal tersebut.
Memastikan bahwa obat herbal yang Anda konsumsi aman bagi tubuh sangat penting dilakukan. Jika tidak acuh, bukan tak mungkin kesembuhan akan makin sulit didapat.
Contoh sederhana adalah konsumsi daun sirsak. dr Lili mengatakan daun sirsak selain bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan sel kanker, juga memiliki efek menurunkan kadar gula darah.
"Jadi kalau pasien normal sangat dianjurkan untuk minum minuman manis setelahnya. Kalau tidak bisa-bisa nanti malah hipoglikemia atau kekurangan gula darah, jadinya lemas dan kleyengan," ungkapnya.
Banyak obat herbal yang kini dijual dalam bentuk kapsul dan diklaim berisi ekstrak dari tumbuhan atau makanan tertentu. Terkait hal ini, dr Lili mengatakan obat herbal paling baik dikonsumsi langsung atau tanpa proses olahan.
Proses ekstrasi dikatakannya sulit untuk mengambil atau menyerap 100 persen zat yang ada dari tanaman. Contohnya adalah daun sirsak. Dengan merebus lalu dijadikan teh beberapa zat bermanfaat bisa hilang. Lebih baik daun tersebut dijadikan menu makanan sehingga manfaatnya maksimal.
"Meski begitu lihat juga kandungan dan manfaatnya. Kalau ternyata 1 kapsul sama dengan 100 gelas teh misalnya, ya nggak apa-apa pakai kapsul," tuturnya.
Yang paling penting dan harus diingat adalah pengobatan herbal harus diposisikan sebagai pengobatan sampingan atau pendamping, bukan sebagai pengobatan utama. Jangan sampai penyakit malah makin parah karena meninggalkan pengobatan di dokter dan beralih ke pengobatan herbal.
"Jangan jadikan sebagai pengobatan utama, herbal hanya sampingan. Memang bermanfaat tapi manfaatnya belum sebesar terapi atau pengobatan dokter lainnya. Jadi misalnya pasien kanker kolorektal minum daun sirsak, silahkan, tapi terapi lainnya tetap harus dilakukan," pungkas dr Lili.
(mrs/vit)