Sering Dipercaya, Tapi Hal-hal Seputar Pasien Kanker Ini Cuma Mitos

Sering Dipercaya, Tapi Hal-hal Seputar Pasien Kanker Ini Cuma Mitos

Nurvita Indarini - detikHealth
Minggu, 28 Jun 2015 13:08 WIB
Sering Dipercaya, Tapi Hal-hal Seputar Pasien Kanker Ini Cuma Mitos
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Ketika mendengar tentang kanker, apa yang Anda pikirkan? Banyak yang berpikir bahwa ini adalah penyakit yang berat dan serius, butuh pengobatan yang lama dan mahal, dan bisa mengancam masa depan seseorang. Tidak semua yang didengar itu benar. Yuk ungkap mitos tentang pasien kanker.

Berikut ini beberapa mitos tentang pasien kanker yang masih sering didengar:

1. Kelak Tidak Bisa Punya Anak

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Masih lekat anggapan bahwa orang yang di masa kanak-kanak berjuang melawan kanker, maka nantinya mereka tidak akan memiliki momongan. Benarkah? Salah! Sebab kanker bermacam-macam jenisnya, demikian pula prosedur pengobatan dan dampaknya berbeda-beda.

"Ada kok beberapa survivor kanker yang menikah dan berkeluarga, punya anak. Salah satu contoh ada teman kita yang retinoblastoma (kanker pada retina mata) punya dua anak yang sehat dan normal," papar salah satu survivor kanker, Natarini (30), dalam diskusi tentang mitos dan fakta kanker pada anak yang digelar di Jl Panglima Polim III, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Minggu (28/6/2015).

Ditemui di kesempatan yang sama, dr Mururul Aisyi, SpA dari RS Kanker Dharmais mengatakan menjadi isu penting apakah orang yang dulunya melawan kanker bisa bereproduksi normal. Melihat banyak mantan pasien kanker yang kini punya keturunan, tentu mematahkan mitos bahwa kanker pasti membuat pengidapnya tidak bisa punya momongan.

Bahwa benar, pada beberapa kasus, radiasi atau penyinaran sebagai prosedur pengobatan kanker bisa mengganggu organ gonad (yang memproduksi sel kelamin). Itu makanya pada pasien kanker anak, radiasi mulai ditinggalkan. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang dinilai sangat membutuhkan radiasi.

"Sekarang mulai banyak diterapkan terapi melalui rongga tulang belakang untuk menyerang sel-sel kanker yang berlindung di balik jalan otak. Intratekal banyak dilakukan untuk menggantikan radioterapi," jelas pria yang akrab disapa dr Murur ini.

2. Berprestasi Rendah

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Anak yang sakit kanker kerap dianggap berprestasi rendah di sekolah. Penelitian mengungkap dua dari 3 penyintas atau survivor kanker anak mengalami efek samping setelah berakhirnya pengobatan. Namun efek samping itu belum tentu memengaruhi kemampuan kognitif dan belajarnya.

Saprita Tahir, adalah salah satu survivor kanker yang membuktikan bahwa kanker tidak meredupkan prestasi seseorang. Saprita yang saat kecil berjuang melawan leukemia berhasil sembuh dan membuktikan dirinya punya prestasi cukup bagus di sekolah.

"Saat ini saya jadi pengacara di salah satu kantor pengacara. Teman-teman survivor kanker juga pada pintar-pintar. Ada yang jadi dokter, kerja di bank, penyanyi," tutur perempuan berusia 26 tahun yang juga Ketua Cancer Buster Community ini.

Saprita sebelumnya menyelesaikan pendidikan sarjana hukum di Universitas Atmajaya. Saat lulus, dia mengantungi predikat cum laude.

3. Berumur Pendek

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Konon, anak dengan kanker tidak berumur panjang. Penelitian menunjukkan bahwa penyintas kanker anak berisiko lebih tinggi terhadap efek samping sesudah pengobatan dan kanker sekunder. Akan tetapi penurunan angka harapan hidup bergantung pada beberapa hal seperti seberapa dini kanker didiagnosis, apa pengobatan awalnya, serta ketepatan pengobatan yang diterima.

Bahwa umur adalah di tangan Tuhan. Yang terpenting adalah bukan sepanjang apa umur manusia, namun seberapa banyak yang bisa dia lakukan untuk orang lain dalam umur yang dimilikinya.

4. Sulit Bersosialisasi

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Sering disebut-sebut bahwa anak dengan kanker sulit bersosialisasi dan tidak memiliki kemampuan interpersonal dalam menjalin hubungan. Faktanya di sebagian besar negara, selama pengobatan, anak memang terpisah dari keluarganya dan tidak bisa mengikuti sekolah dan kegiatan secara teratur. Tapi sejumlah studi menunjukkan para survivor kanker bisa mengatasi kondisinya dengan lebih baik dan menunjukkan ketahanan yang lebih tinggi.

Meskipun memang, adapula survivor kanker anak yang menunjukkan keterkaitan dengan gangguan stres pascatrauma. Sehingga dibutuhkan perawatan lanjutan yang kuat, ruang tumbuh yang aman, dan dukungan yang memadai.

"Lebih tergantung bagaimana membawa diri dan bergaul. Kalau kita positif maka orang yang melihat juga positif," ujar Nimas, survivor kanker anak, yang saat ini menjadi mahasiswi semester 7 di jurusan Ilmu Gizi Universitas Indonesia, ini.

5. Akan Menghadapi Masa Depan Sengsara

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Meninggalkan bangku sekolah sekian lama karena harus menjalani pengobatan membuat beberapa orang menyangka anak-anak dengan kanker akan memiliki masa depan suram dan tidak akan memiliki kehidupan normal. Padahal banyak survivor kanker yang bisa kembali ke kehidupan sekolah dan aktivitas normalnya.

Di Cancer Buster Community banyak anggotanya yang memiliki pekerjaan yang baik. Ada survivor kanker yang menjadi wartawan, pegawai perkantoran, bahkan menjadi dokter.
Halaman 2 dari 6
Masih lekat anggapan bahwa orang yang di masa kanak-kanak berjuang melawan kanker, maka nantinya mereka tidak akan memiliki momongan. Benarkah? Salah! Sebab kanker bermacam-macam jenisnya, demikian pula prosedur pengobatan dan dampaknya berbeda-beda.

"Ada kok beberapa survivor kanker yang menikah dan berkeluarga, punya anak. Salah satu contoh ada teman kita yang retinoblastoma (kanker pada retina mata) punya dua anak yang sehat dan normal," papar salah satu survivor kanker, Natarini (30), dalam diskusi tentang mitos dan fakta kanker pada anak yang digelar di Jl Panglima Polim III, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Minggu (28/6/2015).

Ditemui di kesempatan yang sama, dr Mururul Aisyi, SpA dari RS Kanker Dharmais mengatakan menjadi isu penting apakah orang yang dulunya melawan kanker bisa bereproduksi normal. Melihat banyak mantan pasien kanker yang kini punya keturunan, tentu mematahkan mitos bahwa kanker pasti membuat pengidapnya tidak bisa punya momongan.

Bahwa benar, pada beberapa kasus, radiasi atau penyinaran sebagai prosedur pengobatan kanker bisa mengganggu organ gonad (yang memproduksi sel kelamin). Itu makanya pada pasien kanker anak, radiasi mulai ditinggalkan. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang dinilai sangat membutuhkan radiasi.

"Sekarang mulai banyak diterapkan terapi melalui rongga tulang belakang untuk menyerang sel-sel kanker yang berlindung di balik jalan otak. Intratekal banyak dilakukan untuk menggantikan radioterapi," jelas pria yang akrab disapa dr Murur ini.

Anak yang sakit kanker kerap dianggap berprestasi rendah di sekolah. Penelitian mengungkap dua dari 3 penyintas atau survivor kanker anak mengalami efek samping setelah berakhirnya pengobatan. Namun efek samping itu belum tentu memengaruhi kemampuan kognitif dan belajarnya.

Saprita Tahir, adalah salah satu survivor kanker yang membuktikan bahwa kanker tidak meredupkan prestasi seseorang. Saprita yang saat kecil berjuang melawan leukemia berhasil sembuh dan membuktikan dirinya punya prestasi cukup bagus di sekolah.

"Saat ini saya jadi pengacara di salah satu kantor pengacara. Teman-teman survivor kanker juga pada pintar-pintar. Ada yang jadi dokter, kerja di bank, penyanyi," tutur perempuan berusia 26 tahun yang juga Ketua Cancer Buster Community ini.

Saprita sebelumnya menyelesaikan pendidikan sarjana hukum di Universitas Atmajaya. Saat lulus, dia mengantungi predikat cum laude.

Konon, anak dengan kanker tidak berumur panjang. Penelitian menunjukkan bahwa penyintas kanker anak berisiko lebih tinggi terhadap efek samping sesudah pengobatan dan kanker sekunder. Akan tetapi penurunan angka harapan hidup bergantung pada beberapa hal seperti seberapa dini kanker didiagnosis, apa pengobatan awalnya, serta ketepatan pengobatan yang diterima.

Bahwa umur adalah di tangan Tuhan. Yang terpenting adalah bukan sepanjang apa umur manusia, namun seberapa banyak yang bisa dia lakukan untuk orang lain dalam umur yang dimilikinya.

Sering disebut-sebut bahwa anak dengan kanker sulit bersosialisasi dan tidak memiliki kemampuan interpersonal dalam menjalin hubungan. Faktanya di sebagian besar negara, selama pengobatan, anak memang terpisah dari keluarganya dan tidak bisa mengikuti sekolah dan kegiatan secara teratur. Tapi sejumlah studi menunjukkan para survivor kanker bisa mengatasi kondisinya dengan lebih baik dan menunjukkan ketahanan yang lebih tinggi.

Meskipun memang, adapula survivor kanker anak yang menunjukkan keterkaitan dengan gangguan stres pascatrauma. Sehingga dibutuhkan perawatan lanjutan yang kuat, ruang tumbuh yang aman, dan dukungan yang memadai.

"Lebih tergantung bagaimana membawa diri dan bergaul. Kalau kita positif maka orang yang melihat juga positif," ujar Nimas, survivor kanker anak, yang saat ini menjadi mahasiswi semester 7 di jurusan Ilmu Gizi Universitas Indonesia, ini.

Meninggalkan bangku sekolah sekian lama karena harus menjalani pengobatan membuat beberapa orang menyangka anak-anak dengan kanker akan memiliki masa depan suram dan tidak akan memiliki kehidupan normal. Padahal banyak survivor kanker yang bisa kembali ke kehidupan sekolah dan aktivitas normalnya.

Di Cancer Buster Community banyak anggotanya yang memiliki pekerjaan yang baik. Ada survivor kanker yang menjadi wartawan, pegawai perkantoran, bahkan menjadi dokter.

(vit/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads