Berikut ini beberapa mitos tentang pasien kanker yang masih sering didengar:
1. Kelak Tidak Bisa Punya Anak
|
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
"Ada kok beberapa survivor kanker yang menikah dan berkeluarga, punya anak. Salah satu contoh ada teman kita yang retinoblastoma (kanker pada retina mata) punya dua anak yang sehat dan normal," papar salah satu survivor kanker, Natarini (30), dalam diskusi tentang mitos dan fakta kanker pada anak yang digelar di Jl Panglima Polim III, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Minggu (28/6/2015).
Ditemui di kesempatan yang sama, dr Mururul Aisyi, SpA dari RS Kanker Dharmais mengatakan menjadi isu penting apakah orang yang dulunya melawan kanker bisa bereproduksi normal. Melihat banyak mantan pasien kanker yang kini punya keturunan, tentu mematahkan mitos bahwa kanker pasti membuat pengidapnya tidak bisa punya momongan.
Bahwa benar, pada beberapa kasus, radiasi atau penyinaran sebagai prosedur pengobatan kanker bisa mengganggu organ gonad (yang memproduksi sel kelamin). Itu makanya pada pasien kanker anak, radiasi mulai ditinggalkan. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang dinilai sangat membutuhkan radiasi.
"Sekarang mulai banyak diterapkan terapi melalui rongga tulang belakang untuk menyerang sel-sel kanker yang berlindung di balik jalan otak. Intratekal banyak dilakukan untuk menggantikan radioterapi," jelas pria yang akrab disapa dr Murur ini.
2. Berprestasi Rendah
|
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Saprita Tahir, adalah salah satu survivor kanker yang membuktikan bahwa kanker tidak meredupkan prestasi seseorang. Saprita yang saat kecil berjuang melawan leukemia berhasil sembuh dan membuktikan dirinya punya prestasi cukup bagus di sekolah.
"Saat ini saya jadi pengacara di salah satu kantor pengacara. Teman-teman survivor kanker juga pada pintar-pintar. Ada yang jadi dokter, kerja di bank, penyanyi," tutur perempuan berusia 26 tahun yang juga Ketua Cancer Buster Community ini.
Saprita sebelumnya menyelesaikan pendidikan sarjana hukum di Universitas Atmajaya. Saat lulus, dia mengantungi predikat cum laude.
3. Berumur Pendek
|
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Bahwa umur adalah di tangan Tuhan. Yang terpenting adalah bukan sepanjang apa umur manusia, namun seberapa banyak yang bisa dia lakukan untuk orang lain dalam umur yang dimilikinya.
4. Sulit Bersosialisasi
|
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Meskipun memang, adapula survivor kanker anak yang menunjukkan keterkaitan dengan gangguan stres pascatrauma. Sehingga dibutuhkan perawatan lanjutan yang kuat, ruang tumbuh yang aman, dan dukungan yang memadai.
"Lebih tergantung bagaimana membawa diri dan bergaul. Kalau kita positif maka orang yang melihat juga positif," ujar Nimas, survivor kanker anak, yang saat ini menjadi mahasiswi semester 7 di jurusan Ilmu Gizi Universitas Indonesia, ini.
5. Akan Menghadapi Masa Depan Sengsara
|
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Di Cancer Buster Community banyak anggotanya yang memiliki pekerjaan yang baik. Ada survivor kanker yang menjadi wartawan, pegawai perkantoran, bahkan menjadi dokter.
Halaman 2 dari 6











































