Hati-hati, Jadwal BAB Berubah Juga Bisa Jadi Gejala Kanker Usus Besar

Hati-hati, Jadwal BAB Berubah Juga Bisa Jadi Gejala Kanker Usus Besar

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Kamis, 02 Jul 2015 13:31 WIB
Hati-hati, Jadwal BAB Berubah Juga Bisa Jadi Gejala Kanker Usus Besar
ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Kanker usus besar atau kanker kolorektal menyerang sistem pembuangan kotoran tubuh manusia. Dokter mengatakan hal ini tentu saja memengaruhi jadwal buang air besar (BAB) penderitanya.

dr Hardianto, SpPD dari Digestive Clinic RS Siloam Kebon Jeruk mengatakan bahwa selain BAB mengeluarkan darah, salah satu gejala kanker usus besar lainnya adalah perubahan jadwal BAB yang cukup signifikan.

"Misalnya biasa BAB satu kali sehari atau dua hari sekali, lalu tiba-tiba BAB-nya jadi nggak terjadwal. Bisa 3 hari sekali, atau bahkan 4-5 hari sekali dan sudah berlangsung lama, ini juga bisa jadi gejala kanker usus besar," tutur dr Hardianto dalam temu media RS Siloam Kebon Jeruk, dan ditulis Kamis (2/7/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: BAB Tak Lancar? Bisa Jadi 5 Hal Ini Biang Keladinya

Sulit buang air besar atau konstipasi ini menurutnya jangan diremehkan. Jika sudah lebih dari satu pekan mengalami konstipasi namun tak juga membaik, segera periksa ke dokter. Apalagi jika ketika BAB keluar darah dari dubur.

Gejala lainnya adalah lemas dan berat badan berkurang drastis. Lemas disebabkan oleh anemia karena pendarahan yang terjadi saat BAB. Sementara berat badan berkurang drastis merupakan gejala umum yang ditemui pada setiap penyakit kanker, akibat sel kanker yang menyerap nutrisi tubuh.

Terakhir, ia mengatakan gaya hidup sehat serta pemeriksaan dini sangat penting untuk mengurangi risiko terserang kanker usus besar. Gaya hidup dan pemeriksaan dini menurutnya bahkan bisa mengalahkan faktor risiko genetik kanker, seperti yang terjadi di Jepang.

"Di Jepang itu potensi genetik mereka untuk mengidap kanker sangat tinggi. Jadi angka kejadian kanker tinggi juga. Tapi sebaliknya, angka kematian akibat kankernya sangat rendah. Jadi mereka tahu mereka punya risiko tinggi dan skrining itu dilakukan sejak usia 30 tahun," tuturnya.

(mrs/ajg)

Berita Terkait