Sukses ini mendorong Johnson & Johnson untuk menguji vaksin tersebut pada manusia. Sebuah uji coba internasional tengah dilakukan pada 400 manusia sehat di Amerika Serikat, Afrika Timur, Afrika Selatan, dan Thailand.
Dr Dan Barouch, peneliti vaksin dari Beth Israel Deaconess Medical Center menyebut penelitian ini sebagai pengembangan vaksin HIV pertama yang disponsori perusahaan farmasi besar, sejak kegagalan penelitian serupa pada tahun 2007 yang disponsori perusahaan farmasi lain, Merck.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 35 juta orang terinfeksi HIV, yang merupakan virus penyebab AIDS (Acquired Imuno Deficiency Syndrome). Sejak kemunculannya 30 tahun lalu, AIDS telah menewaskan 40 juta orang di seluruh dunia.
Uji coba vaksin ini dilakukan pada monyet dengan memberikan paparan Simian Immunodeficiency Virus (SIV), yang merupakan kerabat dekat HIV. Virus tersebut disebut sangat poten, mampu menginfeksi 100 persen hewan uji yang tidak mendapat vaksinasi.
Johnson & Johnson berharap vaksin ini akan lebih efektif pada manusia. Meski nantinya hanya mampu melindungi 50 persen partisipan, vaksin ini tetap dinilai menjanjikan.
"Ini tetap akan memberikan dampak besar pada kesehatan masyarakat," kata Dr Paul Stoffels, pimpinan Johnson & Johnson, dikutip dari Reuters, Jumat (3/6/2015).
Jika tahap awal berjalan sukses, Dr Stoffels berharap tahap berikutnya bisa dimulai dalam 18 atau 24 bulan mendatang. Hasil penelitian pada monyet dipublikasikan di jurnal Science baru-baru ini. (up/vit)










































