Alami Migrain, Sarah Mendadak Terbangun dari Tidur dengan Aksen China

Alami Migrain, Sarah Mendadak Terbangun dari Tidur dengan Aksen China

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Kamis, 09 Jul 2015 13:03 WIB
Alami Migrain, Sarah Mendadak Terbangun dari Tidur dengan Aksen China
Foto: SWNS
Devon - Terbangun dari nyeri kepala yang luar biasa, Sarah Colwill mendadak berbicara dengan akses China. Padahal ia mengaku tak pernah ke sana sebelumnya.

Ya, dalam semalam aksen bicara yang biasa dimiliki oleh Sarah tiba-tiba berubah. Tak cuma itu, masalah yang dialami oleh otaknya juga membuat Sarah kadang-kadang lumpuh dan mengalami migrain yang benar-benar mengerikan.

Ia pun menjadi satu dari sekitar 20 kasus yang biasa disebut sebagai Foreign Accent Syndrome ini. "Dokter saya sudah menyerah dan mengatakan bahwa efek ini akan permanen. Tim medis sudah mencoba berbagai perawatan, tapi selama 5 tahun sudah saya mengalami hal ini, benar-benar tak ada perubahan yang terjadi," ungkap Sarah, seperti dikutip dari SWNS, Kamis (9/7/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini terjadi ketika Sarah tertidur pasca mengalami migrain serupa gejala stroke. Pada pagi harinya, ia berharap nyeri tersebut sudah hilang. Rupanya yang terjadi justru membuat hidupnya lebih berantakan, aksen bicaranya berubah drastis menjadi aksen China.

Baca juga: Bangun Koma Pasca Stroke, Wanita Tiongkok ini Jadi Mahir Bahasa Inggris

Hal ini sangat mengubah hidupnya, wanita berusia 40 tahun ini bahkan terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya di bidang teknologi informasi karena rekan-rekannya hampir tak mengerti lagi apa yang ia katakan.

"Saya juga mengalami migrain sepanjang waktu dan harus menggunakan kursi roda. Ini karena otak saya tidak bisa lagi berkomunikasi dengan tubuh saya. Sebenarnya tak ada masalah pada kaki saya, tapi otak saya tak bisa 'menyuruhnya' untuk bergerak," imbuhnya.

Sarah yang memiliki dua orang anak perempuan ini juga mengaku kini kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan rumah sehari-hari. Sang suami, Patrick, juga terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya.

"Suami saya harus mengurus saya dan ia juga didiagnosis dengan masalah kesehatan lain. Sehingga tak satu pun dari kita yang bisa bekerja. Kami pun terpaksa menjual rumah," ungkap Sarah.

Sampai saat ini Sarah masih sangat mengharapkan adanya pengobatan yang bisa membantunya. Meskipun masih melakukan beberapa terapi setiap pekan, ia mengaku belum merasakan adanya perubahan pada otak dan tubuhnya.

Baca juga: Jatuh dari Kuda, Bicara Wanita Kanada Ini Tiba-tiba Beraksen Skotlandia

(ajg/vit)

Berita Terkait