Kelak Trauma Bisa Dicegah dengan Main Tetris

Kelak Trauma Bisa Dicegah dengan Main Tetris

Rahma Lilahi Sativa - detikHealth
Minggu, 12 Jul 2015 08:37 WIB
Kelak Trauma Bisa Dicegah dengan Main Tetris
Foto: Thinkstock/patronestaff
Jakarta - Trauma dan kenangan pahit memang sulit untuk dihilangkan. Untuk itu berbagai penelitian dilakukan demi menemukan cara terbaik untuk membantu seseorang melalui masa-masa sulit ini. Salah satunya dengan memanfaatkan permainan sederhana, yaitu Tetris.

Pertama-tama, tim peneliti yang terdiri atas ilmuwan-ilmuwan dari University of Cambridge, University of Oxford dan Karolinska Institute memperlihatkan video tentang kejadian-kejadian yang bisa memicu trauma kepada sejumlah partisipan, seperti kecelakaan yang mengakibatkan kematian dan orang tenggelam.

Beberapa jam kemudian, sebagian dari mereka diminta untuk bermain Tetris. Ternyata mereka yang bermain Tetris 24 jam selepas menonton video ini mengaku tidak begitu dibayangi oleh 'ingatan mengganggu' beberapa hari setelah menonton video.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

'Ingatan mengganggu' atau oleh peneliti disebut dengan 'ingatan intrusif' diidentikkan dengan trauma dan flashback atau kenangan buruk yang berkembang setelah melihat sesuatu yang dapat memicu trauma.

Baca juga: Trauma atau Marah Besar? Jangan Dibawa Tidur, Begadang Justru Lebih Baik

"Ini artinya bermain Tetris dapat mencegah agar trauma tidak muncul, karena memori visual yang tersimpan dalam otak setelah menonton video tidak terbentuk ketika perhatian dialihkan ke permainan," simpul peneliti seperti dikutip dari ABC News, Minggu (12/7/2015).

Sayangnya hasil temuan ini dianggap masih terlalu dini. "Ini belum bisa diaplikasikan pada mereka yang baru saja mengalami trauma betulan," tandas Jaine Darwin, seorang psikolog yang berpraktik di Massachusetts.
 
Darwin berpendapat, bagaimanapun melihat gambar atau video yang memicu trauma dengan mengalami trauma yang sebenarnya amatlah berbeda. Bagi Darwin, seseorang yang bisa trauma hanya karena menonton video mengerikan sebenarnya hanya perlu diminta untuk mematikan TV maupun komputer yang menjadi sarana untuk menonton video tersebut.

Kalaupun ada pasien trauma, para pakar biasanya mencoba mengajak mereka untuk 'memisahkan diri' dari hal-hal yang berkaitan dengan pemicu trauma mereka seperti pindah rumah. Dengan begitu mereka dapat menerima trauma itu dari 'tempat yang lebih aman'.

"Ini baru percobaan awal. Suatu saat nanti mungkin kami bisa melakukan percobaan serupa dengan melibatkan orang-orang yang benar-benar pernah mengalami kejadian trauma," pungkas peneliti.
 
Baca juga: Kenali Tipe Gangguan Cemas yang Anda Alami (lll/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads