Senin, 27 Jul 2015 09:33 WIB

Korban 'Sunat' Wanita di Australia Berharap Bisa Operasi Restorasi Klitoris

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: Thinkstock/Natalia Yakovleva Foto: Thinkstock/Natalia Yakovleva
Jakarta - Praktik Female Genital Mutilation (FGM) atau sunat perempuan dilarang di banyak negara. Para korban praktik di Australia ingin ada akses operasi restorasi.

Korban FGM umumnya adalah anak-anak dan seringkali dipaksa oleh orang lain. Jools dari Australia adalah salah satu survivor dan bercerita dirinya saat itu masih bayi ketika sang ibu memutuskan untuk melakukan FGM dengan alasan agar Jools tak masturbasi.

Sebagai seorang survivor, Jools kini turut aktif menyuarakan pendapat agar pemerintah mengadakan akses untuk operasi restorasi. Ia ingin agar fungsi seksual yang dirampas darinya dikembalikan.

"Sebagai aspek emosional dan psikologis, hal ini benar-benar masuk ke inti dari identitas diri Anda dan bagaimana Anda melihat tubuh Anda serta bagaimana ini bisa memengaruhi hidup," kata Jools seperti dikutip dari ABC Australia pada Senin (27/7/2015).

Baca juga: Sunat Perempuan Masih Banyak Dilakukan di Somalia

Kelompok kampanye No FGM Australia mengatakan meski langkah pencegahan seperti memberikan sosialisasi penting, namun pengadaan operasi restorasi seharusnya jadi prioritas karena tak banyak tenaga ahli yang bisa melakukannya.

Menurut catatan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), operasi restorasi FGM pertama kali dikembangkan oleh urologis Prancis dr Pierre Foldes pada tahun 2004. Operasi dikatakan bisa mengurangi rasa sakit dan sedikit mengembalikan fungsi sensitivitas klitoris.

No FGM belakangan melobi Royal Australia and New Zealand College of Obstetricians and Gynaecologists (RANZCOG) untuk membawa dr Foldes ke Australia.

"Saya pikir ini termasuk hak asasi manusia untuk wanita mengakses operasi jika diinginkan," pungkas Paula Ferrari, direktur utama No FGM Australia.

Baca juga: Sunat Perempuan di Indonesia, Masih Bolehkah Dilakukan?

(fds/up)
News Feed