Selasa, 28 Jul 2015 08:48 WIB

Hari Hepatitis Sedunia

Obat Hepatitis Masih Sangat Mahal, Pemerintah Didesak Turun Tangan

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: AN Uyung Pramudiarja
Jakarta - Hari Hepatitis Sedunia pada Selasa (28/7/2015) diperingati dengan aksi damai oleh Koalisi Obat Murah. Salah satu tuntutannya adalah memasukkan obat hepatitis ke dalam formularium JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

"Pemerintah punya mekanisme fast track agar izin edarnya cepat keluar," kata Ayu Oktariani, salah seorang pengidap hepatitis C, ditemui dalam aksi damai Koalisi Obat Murah di Taman Proklamasi, Jakarta Pusat.

Baca juga: Obat-obat Ini Penting, Tapi Mahal dan Butuh Perjuangan untuk Mendapatkannya

Obat terbaru untuk hepatitis C, sofosbuvir diketahui punya efektivitas menurunkan viral load atau jumlah virus hingga 90 persen. Namun karena masih dilindungi paten, harganya tidak terjangkau oleh kebanyakan pasien.

Beberapa negara seperti China dan India telah menolak paten sofosbuvir, sehingga versi generiknya bisa diakses oleh pasien. Dibandingkan versi paten, harga sofosbuvir versi generik lebih terjangkau yakni sekitar Rp 21-23 juta untuk paket pengobatan selama 6 bulan.

Obat terdahulu yakni kombinasi pegylated interferon dan ribavarin juga relatif mahal, namun belakangan sudah masuk dalam formularium JKN. Diharapkan, versi generik dari sofosbuvir juga bisa masuk formularium.

Bila tidak diobati, infeksi kronis hepatitis B dan C bisa berkembang menjadi sirosis atau pengerasan hati. Dalam beberapa tahun, sirosis bisa juga berkembang menjadi kanker hati yang mematikan. Dan karena harga obatnya sangat mahal, kebanyakan pasien di Indonesia selama ini tidak diobati.

"Didiagnosis kena hepatitis tapi tidak bisa berobat, kan itu yang menyeramkan," kata Ayu, yang dalam 3 pekan terakhir akhirnya bisa mengonsumsi sofosbuvir versi generik 'selundupan' dari India.

Baca juga: 1 Dari 4 Pasien Hepatitis Terancam Kematian Akibat Sirosis Hati (up/vit)