Makan Sembarangan, Awas Kemasukan Cacing-cacing Ini

Makan Sembarangan, Awas Kemasukan Cacing-cacing Ini

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 30 Jul 2015 08:33 WIB
Makan Sembarangan, Awas Kemasukan Cacing-cacing Ini
Foto: Thinkstock/jlmcloughlin
Jakarta - Konon makan sembarangan bisa menyebabkan seseorang terkena sakit perut karena cacingan. Secara logika, pernyataan ini tampaknya tidak masuk di akal.

Namun faktanya, banyak ditemukan kasus cacingan akibat mengonsumsi makanan ekstrem, tak lazim atau makanan yang tidak terjamin kebersihannya. Tak percaya? Simak beberapa contoh kasus cacingan akibat makan sembarangan, seperti dirangkum detikHealth, Kamis (30/7/2015) berikut ini.

Baca juga: Hati-hati, Cacing Bisa Bersarang di Paru-paru, Mata dan Otak Manusia

1. Pasien wanita asal Jiangsu

foto: whatsonningbo
Pasien ini pertama kali kejang pada bulan Desember 2010. Namun karena tidak diketahui asal-muasal infeksinya, kondisi ini tidak ditindaklanjuti. Setengah tahun kemudian, epilepsi terjadi kembali dan hasil CT scan pasien memperlihatkan adanya benda asing di otak pasien asal Jiangsu, Tiongkok timur ini.

Pasien langsung dioperasi dan tim dokter kemudian menemukan granuloma, atau sejenis radang di otak yang dapat memicu serangan epilepsi, mengingat pasien tak memiliki riwayat ayan. Setelah digali lebih dalam, dokter akhirnya menemukan penyebab sesungguhnya dari granuloma tersebut, yakni cacing sepanjang 23 cm.

Cacing itu termasuk ke dalam jenis cacing pita yang biasanya menyerang saluran cerna, sehingga tim dokter meyakini cacing ini masuk lewat makanan yang dikonsumsi pasien.



2. Emily Buckley

foto: Cascade News
Di tahun 2012, seekor cacing pipih berukuran 6 sentimeter ditemukan bersarang di bawah kulit lengan Emily Buckley (saat itu 28 tahun). Namun kasus yang dialami Emily tergolong langka, sebab cacing pipih biasanya menyerang sistem pencernaan manusia. Sedangkan pada Emily, cacing itu justru tampak menonjol di bawah kulitnya.

Diduga cacing ini masuk ke tubuh Emily saat ia berwisata ke Malaysia. Sekembalinya ke Inggris, ia langsung memeriksakan diri dan di san dokter juga menemukan parasit lain dalam kantung empedunya.

3. Pasien asal Bali

foto: Livestrong
"Saya pernah beberapa tahun yang lalu ada pasien ke laboratorium sini datang bawa tes tinja dan bilang kalau di tinjanya itu ada sesuatu putih-putih kayak pita gitu. Setelah dilihat ternyata itu cacing pita, panjangnya sampai delapan meter, coba bayangkan kalau dibanding tinggi badannya dia kan," ungkap pakar parasitologi dari Fakultas Kedokteran UGM, Prof dr Supargiyono, DTM&H, SU, SpPar(K) kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Kebetulan, lanjut Prof Supargiyono, pasien yang bersangkutan adalah orang Bali. Menurutnya dalam tubuh masyarakat Bali rentan ditemukan larva cacing karena kebiasaan mengonsumsi daging mentah.

Untungnya si pasien sudah bisa sembuh berkat obat cacing yang diberikan, itu pun hanya dengan dua dosis saja.

4. Pasien pria asal Guangxi

foto: Rocketnews24
Pada bulan Februari 2014, pemuda ini dilarikan ke rumah sakit dengan keluhan lemas, pusing dan kehilangan penglihatan. Setelah dilakukan CT scan, tim medis menemukan 19 parasit dalam otaknya, yakni Taenia solium atau salah satu jenis cacing pita.

Ternyata pria ini suka meminum darah dari babi hidup, dan sekali minum ia bisa menandaskan beberapa gelas sekaligus. Di China, darah babi segar kerap diolah menjadi sup manis.

5. Pasien pria asal Guangzhou

Foto: Canadian Family Physician
Lagi-lagi dari Tiongkok. Suatu hari, seorang pria asal Guangzhou mendatangi dokter dengan keluhan sakit perut dan gatal di kulitnya. Setelah di-scan, ternyata di dalam tubuhnya terdapat banyak cacing pita. Kebetulan pria ini memang hobi makan sushi.

Dokter di Guangzhou No. 8 People's Hospital yang menangani pria tersebut yakin jika cacing pita dalam jumlah banyak itu berasal dari daging atau ikan mentah yang terkontaminasi. Beberapa jenis obat pun diberikan untuk memusnahkan cacing-cacing pita tersebut.

"Mengonsumsi makanan yang tidak dimasak dan terkontaminasi telur cacing pita bisa menyebabkan cysticercosis, jika cacing dewasa yang menetas dari telur memasuki aliran darah," kata sang dokter. Selain itu, perlu diwaspadai bahwa meski sudah diasinkan atau diasap, kemungkinan kontaminasi larva masih tetap ada.

Cara penyajian juga patut diperhatikan karena piring yang kurang bersih pun bisa membuat ikan mentah terkontaminasi.

6. Pasien anak usia 11 tahun

foto: Central European News
Pada bulan November 2014, seorang anak berusia 11 tahun dilarikan ke Xinhua Hospital, Shanghai karena keluhan sakit kepala dan kejang beberapa kali. Ternyata setelah dipindai dengan sinar X, ditemukan seekor cacing parasit berjenis Spargonosis sepanjang 8 cm di dalam otaknya.

Menurut sang ayah, anaknya gemar membeli jajanan dari pedagang kaki lima, sehingga ia menduga parasit itu berasal dari makanan kegemaran putranya. "Saya tidak tahu mengapa dia makan makanan menjijikkan itu. Ia bahkan mengaku kepada saya pernah makan ular panggang. Saya ragu makanan yang ditawarkan kepadanya benar-benar seperti apa yang terlihat. Dia hanya 11 tahun, tidak akan tahu bedanya," kata sang ayah.


7. Hana Flodynova

foto: Mirror
Di awal tahun, Hana (76) dilarikan ke rumah sakit karena sakit perut parah dan perdarahan pada urine-nya. Dikira kena batu ginjal, Hana kemudian menjalani operasi. Namun bukan batu ginjal yang ditemukan, melainkan dua ekor cacing raksasa di dalam tubuhnya.

"Di salah satu ginjalnya terdapat cacing berwarna merah sepanjang 7,6 cm. Kami juga menemukan cacing kedua sepanjang 5 cm telah merangkak ke kandung kemihnya," kata ahli urologi Dr Jan Pulcer dari Ceko.

Cacing parasit berjenis Dioctophyme renale ini biasanya hanya ditemukan pada anjing dan jarang bisa masuk ke tubuh manusia. Belakangan diduga cacing itu masuk lewat makanan laut yang tidak dimasak dengan baik, dan hal ini dikuatkan oleh fakta bahwa Hana sangat hobi makan seafood.

Sayangnya ketika kedua cacing tersebut berhasil diangkat, tak berapa lama kemudian Hana meregang nyawa.

8. Yin Meng

foto: Central European News
Selama enam tahun, Yin hanya memendam sakit kepala yang ia rasakan. Hingga akhirnya ia jatuh pingsan di tempat kerja. Ketika dibawa ke rumah sakit, dokter mengaku menemukan parasit namun tak berkenan membedahnya karena fasilitas medis yang tidak memadai.

Barulah setelah Yin pingsan lagi beberapa waktu kemudian, pihak rumah sakit akhirnya berkenan mengoperasi gadis ini. Ternyata di dalam tengkorak Yin ditemukan sebuah parasit yang disebut Sparaganosis, yang diperkirakan telah tumbuh di kepalanya sejak bertahun-tahun lalu. Saat diangkat, panjangnya sudah mencapai 10 cm dan berbentuk pipih seperti cacing pita.

Dokter berkesimpulan parasit ini tinggal di kepala Yin karena Yin dan sang nenek suka menangkap kodok kemudian memakannya hidup-hidup saat ia masih kecil.
   

Halaman 2 dari 9
Pasien ini pertama kali kejang pada bulan Desember 2010. Namun karena tidak diketahui asal-muasal infeksinya, kondisi ini tidak ditindaklanjuti. Setengah tahun kemudian, epilepsi terjadi kembali dan hasil CT scan pasien memperlihatkan adanya benda asing di otak pasien asal Jiangsu, Tiongkok timur ini.

Pasien langsung dioperasi dan tim dokter kemudian menemukan granuloma, atau sejenis radang di otak yang dapat memicu serangan epilepsi, mengingat pasien tak memiliki riwayat ayan. Setelah digali lebih dalam, dokter akhirnya menemukan penyebab sesungguhnya dari granuloma tersebut, yakni cacing sepanjang 23 cm.

Cacing itu termasuk ke dalam jenis cacing pita yang biasanya menyerang saluran cerna, sehingga tim dokter meyakini cacing ini masuk lewat makanan yang dikonsumsi pasien.



Di tahun 2012, seekor cacing pipih berukuran 6 sentimeter ditemukan bersarang di bawah kulit lengan Emily Buckley (saat itu 28 tahun). Namun kasus yang dialami Emily tergolong langka, sebab cacing pipih biasanya menyerang sistem pencernaan manusia. Sedangkan pada Emily, cacing itu justru tampak menonjol di bawah kulitnya.

Diduga cacing ini masuk ke tubuh Emily saat ia berwisata ke Malaysia. Sekembalinya ke Inggris, ia langsung memeriksakan diri dan di san dokter juga menemukan parasit lain dalam kantung empedunya.

"Saya pernah beberapa tahun yang lalu ada pasien ke laboratorium sini datang bawa tes tinja dan bilang kalau di tinjanya itu ada sesuatu putih-putih kayak pita gitu. Setelah dilihat ternyata itu cacing pita, panjangnya sampai delapan meter, coba bayangkan kalau dibanding tinggi badannya dia kan," ungkap pakar parasitologi dari Fakultas Kedokteran UGM, Prof dr Supargiyono, DTM&H, SU, SpPar(K) kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Kebetulan, lanjut Prof Supargiyono, pasien yang bersangkutan adalah orang Bali. Menurutnya dalam tubuh masyarakat Bali rentan ditemukan larva cacing karena kebiasaan mengonsumsi daging mentah.

Untungnya si pasien sudah bisa sembuh berkat obat cacing yang diberikan, itu pun hanya dengan dua dosis saja.

Pada bulan Februari 2014, pemuda ini dilarikan ke rumah sakit dengan keluhan lemas, pusing dan kehilangan penglihatan. Setelah dilakukan CT scan, tim medis menemukan 19 parasit dalam otaknya, yakni Taenia solium atau salah satu jenis cacing pita.

Ternyata pria ini suka meminum darah dari babi hidup, dan sekali minum ia bisa menandaskan beberapa gelas sekaligus. Di China, darah babi segar kerap diolah menjadi sup manis.

Lagi-lagi dari Tiongkok. Suatu hari, seorang pria asal Guangzhou mendatangi dokter dengan keluhan sakit perut dan gatal di kulitnya. Setelah di-scan, ternyata di dalam tubuhnya terdapat banyak cacing pita. Kebetulan pria ini memang hobi makan sushi.

Dokter di Guangzhou No. 8 People's Hospital yang menangani pria tersebut yakin jika cacing pita dalam jumlah banyak itu berasal dari daging atau ikan mentah yang terkontaminasi. Beberapa jenis obat pun diberikan untuk memusnahkan cacing-cacing pita tersebut.

"Mengonsumsi makanan yang tidak dimasak dan terkontaminasi telur cacing pita bisa menyebabkan cysticercosis, jika cacing dewasa yang menetas dari telur memasuki aliran darah," kata sang dokter. Selain itu, perlu diwaspadai bahwa meski sudah diasinkan atau diasap, kemungkinan kontaminasi larva masih tetap ada.

Cara penyajian juga patut diperhatikan karena piring yang kurang bersih pun bisa membuat ikan mentah terkontaminasi.

Pada bulan November 2014, seorang anak berusia 11 tahun dilarikan ke Xinhua Hospital, Shanghai karena keluhan sakit kepala dan kejang beberapa kali. Ternyata setelah dipindai dengan sinar X, ditemukan seekor cacing parasit berjenis Spargonosis sepanjang 8 cm di dalam otaknya.

Menurut sang ayah, anaknya gemar membeli jajanan dari pedagang kaki lima, sehingga ia menduga parasit itu berasal dari makanan kegemaran putranya. "Saya tidak tahu mengapa dia makan makanan menjijikkan itu. Ia bahkan mengaku kepada saya pernah makan ular panggang. Saya ragu makanan yang ditawarkan kepadanya benar-benar seperti apa yang terlihat. Dia hanya 11 tahun, tidak akan tahu bedanya," kata sang ayah.


Di awal tahun, Hana (76) dilarikan ke rumah sakit karena sakit perut parah dan perdarahan pada urine-nya. Dikira kena batu ginjal, Hana kemudian menjalani operasi. Namun bukan batu ginjal yang ditemukan, melainkan dua ekor cacing raksasa di dalam tubuhnya.

"Di salah satu ginjalnya terdapat cacing berwarna merah sepanjang 7,6 cm. Kami juga menemukan cacing kedua sepanjang 5 cm telah merangkak ke kandung kemihnya," kata ahli urologi Dr Jan Pulcer dari Ceko.

Cacing parasit berjenis Dioctophyme renale ini biasanya hanya ditemukan pada anjing dan jarang bisa masuk ke tubuh manusia. Belakangan diduga cacing itu masuk lewat makanan laut yang tidak dimasak dengan baik, dan hal ini dikuatkan oleh fakta bahwa Hana sangat hobi makan seafood.

Sayangnya ketika kedua cacing tersebut berhasil diangkat, tak berapa lama kemudian Hana meregang nyawa.

Selama enam tahun, Yin hanya memendam sakit kepala yang ia rasakan. Hingga akhirnya ia jatuh pingsan di tempat kerja. Ketika dibawa ke rumah sakit, dokter mengaku menemukan parasit namun tak berkenan membedahnya karena fasilitas medis yang tidak memadai.

Barulah setelah Yin pingsan lagi beberapa waktu kemudian, pihak rumah sakit akhirnya berkenan mengoperasi gadis ini. Ternyata di dalam tengkorak Yin ditemukan sebuah parasit yang disebut Sparaganosis, yang diperkirakan telah tumbuh di kepalanya sejak bertahun-tahun lalu. Saat diangkat, panjangnya sudah mencapai 10 cm dan berbentuk pipih seperti cacing pita.

Dokter berkesimpulan parasit ini tinggal di kepala Yin karena Yin dan sang nenek suka menangkap kodok kemudian memakannya hidup-hidup saat ia masih kecil.
   

(lll/vit)

Berita Terkait